2024 Tahun Buku?

Pas lagi coba nginget-nginget apa yang terjadi selama 2024, tiba-tiba kerasa tahun ini lumayan banyak pengalaman sama buku. Dari mulai ngenalin anak ke perpustakaan kota, sama keisengan pinjem buku dari perpustakaan kampus pas liburan karena badai. Post ini mau coba secara random nginget-nginget buku yang dibaca selama 2024 (yang mostly buku anak-anak). Karena kayaknya bakal nyebut banyak judul, jadi post ini niatnya emang bukan review.

Di sini (kurang tahu di Indonesia), buku bisa dipesen online terus dipaketin kirim ke rumah gratis sama perpustakaannya. Di ates pas lagi cari buku-buku tema Zoo

Buku Pertama di 2024

Di tengah winter break 2023-2024, istri minta cariin buku yang seru dibaca dari perpus kampus, pinginnya yang temanya “Amerika”. Browsing nggak nemu yang bagus, pas iseng lihat rak buku-buku baru ketemu buku Florida! yang dibuat sama perusahaan yang terkenal karena film-filmnya, A24. Buku yang lumayan seru karena ngasih wawasan keunikan, sejarah, cerita trivial seputar Florida. Pas itu saya juga pinjem salah satu komik (graphic novel) amerika terbaik sepanjang sejarah: Watchmen. Karena ngerasa udah lama nggak commit baca, jadinya sekalianya baca dimulainya dari komik dulu 😀

Buku No Bear Anywhere, ada halaman yang fokus (latar putih) dan ada yang full warna. Yang full warna objek dan desainnya tetep simpel dan fokus

Buku Anak-anak yang (Ternyata) Menarik

April tahun ini anak udah masuk usia 1 tahun dan mulai lebih intens kita kenalin buku. Mulai bikin anggota perpus kota, ajakin anak ke acara-acara di sana, dan berusaha terus pinjem buku dan bacain. Setelah baca-baca kok ternyata lumayan kaget beberapa buku menarik banget. Menarik secara konten, desain pembawaan, topiknya, atau juga layoutnya. Penasaran, apa buku anak-anak di Indonesia udah sebagus ini juga? Sayangnya riwayat pinjeman buku di akun perpus nggak otomatis kesimpen, jadi ini cuma berdasar inget-inget aja.

Kita mulai dari Buku seputar beruang 🐻 yang entah kenapa di sini banyak banget dan kerasa relate: No Bear Anywhere (NBA), We are Going on a Bear Hunt (WGB), dan Eat Up, Bear! (EUB). Buku NBA dan WGB punya konsep yang sama: satu cerita yang dipartisi dan dibuat repetisi, desainnya juga unik banyak latar putih jadi bisa fokus kecuali di halaman-halaman tertentu. EUB juga banyak repetisi, desainnya lebih kompleks, tapi masih simpel, dan tiap halaman banyak objek-objek yang bisa menarik dibuat cerita ke anak. Yang kerasa unik juga, ketiga buku itu nggak cuma sekadar cerita, tapi juga ada bumbu humor dan hikmah sekaligus.

Istri juga beliin buku The Race to the Beach yang banyak binatangnya (termasuk beruang). Ilustrasinya di beberapa halaman lebih rame dan detail, tapi karena saya mbacain ini akhir-akhir, anak jadi lumayan udah bisa fokus, jadi nggak terasa penuh, jadi tetep seru ceritainnya.

Selain itu juga sempet baca buku: Ducks!, Peek-a-Bruce, dan Kind Crocodile yang jauh lebih simpel (teks yang lebih sedikit), tapi desain tetep menarik dan fokus (banyak latar putihnya), dan punya konsep repetitive juga. Dari ketiga buku ini saya juga belajar, kalau sebenernya nggak perlu banyak teks untuk jadi buku cerita anak yang menarik (orang tuanya yang mesti berimajinasi ceritanya dipanjang-panjangin). Buku Ducks!, nyeritain anak bebek yang hilang, dan tiap halaman cuma 1 atau 2 kata 😀 “Ducks?” “Ducks!” “No Ducks!”.

Pas anak lagi main di perpus saya juga sempet baca satu buku anak yang ceritanya lebih kompleks (jadi saya baca buat sendiri) dan desain ilustrasinya masyaAllah.. The Gray City

Buku di Tengah Badai

Tahun ini Orlando dapet tiga hurricane besar yang bikin kampus harus diliburin: Debby, Helene, Milton. Agak lupa di hurricane yang mana, Orlando sempat diprediksi bakal kena lumayan parah, yang berarti bisa jadi mati lampu berhari-hari. Terus jadinya kepikiran, mungkin kita perlu nyetok buku biar nggak bosen?

Akhirnya pinjem beberapa buku di perpus kota dan perpus kampus buat saya, istri, dan anak. Di tengah badai-badai, saya sempet baca novel The Door to Door Bookstore (DDB) rekuesan istri, dan novel-lawas-yang-harusnya-saya-baca-sejak-lama Harry Potter #1 (HP1). Novel DDB yang pertama dibaca, enak banget dibacanya ringan dan hangat. Nggak nyangka bakal bisa baca habis novel (mengingat tahun ini diawali cuma baca komik). Akhirnya di badai selanjutnya saya coba HP1, dan ternyata dibanding filmnya, baca novelnya kerasa jelas dan detail banget. Khususnya bagian ending yang dari dulu saya bingung pas lihat filmnya. Sempet mau coba lanjut HP2 tapi belum sempet-sempet akhirnya 😀

2025?

Ngerasa hobi baca buku itu bagus. Tapi saya pribadi nggak mau terjebak di buku-buku novel fiksi walau itu nyenengin. Karena di sini juga lagi studi, waktunya mesti dioptimalin (dan banyak paper/tutorial yang mesti dibaca). Semoga 2025 bisa tetep baca buku.

By Rian Adam

Student at University of Central Florida; Lecturer at Universitas Islam Indonesia; Machine Learning Enthusiast;

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *