Beberapa waktu lalu nggak sengaja lihat video pengajian yang diisi oleh salah seorang ustadz yang namanya udah saya dengar sejak zaman SMA (2009-2012) Beliau ustadz yang dari dulu dikenal dengan cerita-cerita true story yang menarik dan penuh hikmah. Rekaman kajian yang saya tonton pas itu juga nggak jauh beda.
Tapi saya jadi mikir. Sebenernya pikiran ini cuma nyambung dari pikiran lain yang sudah ter-trigger beberapa waktu sebelumnya:
Di era internet ini, saya perlu mengevaluasi ulang semua cerita yang pernah saya dengar dan saya ingat
Pohon-pohon di Jerman
Dulu ketika SD kelas 3, guru SD saya nunjukin gambar di bawah, di-print dibagi ke semua siswa, dengan caption pohon-pohon di Jerman membentuk lafaz syahadat. Dulu guru SD saya sangat percaya dan meyakinkan seisi kelas.

Kalau saya sekarang diberikan foto itu, maka kepikiran pertama saya adalah cek betul-tidaknya via internet. Berita tadi yang terasa too good to be true akan men-trigger saya untuk minimal browsing. Tapi dulu? kayaknya saya percaya-percaya aja. Bahkan guru SD saya yang hitungannya saat itu masih muda, terdidik, beragama baik pun, percaya dengan mudah.
Piring Pecah
Kejadian yang hampir mirip juga saya alami beberapa waktu lalu pas sesi konsultasi dengan supervisor S3 saya, Beliau sempat menyarankan untuk menghapus beberapa poin yang saya highlight di paper karena bisa jadi poin-poin itu, yang tidak terlalu menarik bagi pembaca, malah bikin poin yang sebenernya menarik jadi kurang keliatan. Kata beliau kira-kira gini: “ada penelitian yang nunjukkin kalau sekumpulan orang akan lebih memilih 1 set 5 piring utuh daripada 1 set 8 piring dengan 2 piring pecah, yang padahal jumlahnya piring utuhnya lebih banyak”
Entah kenapa pas beliau cerita gitu, refleks saya adalah browsing apa penelitian itu beneran ada, atau ini sama seperti kejadian guru SD saya dulu? Setelah browsing singkat ternyata beneran ada walau angkanya tidak tepat, tapi kesimpulan intinya sama.
Penutup
Kembali ke ustadz yang saya tonton baru-baru ini. Saya tetap berprasangka baik bahwa ustadz-ustadz yang saya tonton sudah dan selalu usaha untuk mengecek kebenaran cerita-cerita yang disampaikan.
Tapi buat saya ini jadi refleksi: Tiap kita sampaikan sesuatu, khususnya kisah-kisah yang muncul belakangan, yang terlihat menarik, kayak “sebuah penelitian terbaru di negara X menunjukkan …”, “Pernah denger cerita dari guru ku pas SMA katanya …”, Maka baiknya kita coba cek ulang, browsing bentar, apa itu benar. Jangan sampai kita malah jadi meneruskan kisah yang sebenernya nggak nyata atau dibuat-buat demi “hikmah”. Apalagi kita sekarang di era yang browsing bentar itu lebih gampang dibanding orang yang pernah cerita ke kita dulu, misal, guru SMA kita.
Saya sendiri beberapa kali ngecek tulisan-tulisan saya di blog ini bertahun-tahun dulu. Dan ya hapus beberapa tulisan yang dulu saya juga post karena merasa itu cerita keren yang ada hikmahnya, tapi sekarang kalau dicek nggak bisa ditelusuri asal muasalnya. Semoga kita bisa sama-sama terjaga dari lisan atau telinga kita. Wallahu a’lam.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6)