Karena kuliah di area teknik, banyak temen di sini bukan orang kulit putih asli Amerika; ada yang Arab, South Asian, East Asian dan Amerika Latin. Ketika ngobrol agak lama, biasanya pertanyaan itu muncul lebih dulu daripada pertanyaan “Kapan lulus?” atau “Apa rencana setelah lulus?”. Dan hampir bisa ditebak jawabannya “Iya”
Kenapa “Iya”?
Hidup di negara maju kayak Amerika emang kalau diukur dari kesejahteraan itu lebih banyak enaknya.
Alasan #1, kita mulai dari gaji: Di US, gaji dosen baru paling rendahnya (random cek google) itu $4000 per bulan, tapi punya kenalan dosen baru kayaknya sampai $7000 per bulan. Harga IPhone di sini harganya sama kayak di Indonesia, sekitar $1000 atau sekitar 16 juta rupiah. Dengan gaji 1 bulan, bisa beli IPhone (lebih dari satu kalau mau). Harga mobil, saya cek Honda CRV 2024 harganya sekitar $35,000 setara total gaji 5 bulan. Di Indonesia, dengan gaji 10 juta per bulan (bukan gaji dosen), ditotal setahun belum bisa beli mobil.
Tapi Itu agak simplifikasi sih, karena tetep ada biaya rumah dan layanan kesehatan bisa jadi lebih mahal dibanding di Indonesia. Tapi yang mau saya sampaikan adalah hal-hal yang dulu terkesan mewah ketika di Indonesia ternyata bisa kelihatan murah dan mudah digapai dengan gaji US. Dan itu baru gaji, masih banyak tawaran menarik ketika hidup di negara maju, yang kayaknya terlalu panjang kalau dibahas di sini.
Alasan #2 biasanya karena negara asalnya yang nggak baik-baik saja. Nggak baik-baik saja ini bisa dari segi politik atau seringnya peluang cari kerja. Saya pernah denger dari temen asal India, Bangladesh, dan China, peluang kerja di negara asal mereka susahnya bukan main. Ada temen cerita di negaranya pernah ada satu (1) lowongan dosen kualifikasi minimum S3, sampai tahap wawancara yang lolos 57 orang ._.
Tapi jangankan dari negara-negara itu, di Indonesia, kalau saya bukan dosen dan pingin kerja di Industri, saya bisa jadi susah juga cari kerja dengan modal ilmu S3 saya karena bidangnya (arsitektur komputer) yang hampir nggak ada pasar di sana. Sedangkan di sini lebih banyak pilihan, lebih banyak industri yang cari. Tinggal di US kayak ngasih peluang kerja layak yang lebih besar.
Sempet denger istilah: “American Dream”, cita-cita untuk imigrasi dan sukses di US. Kata-kata ini saya denger pertama kali dari orang Indonesia yang sudah tinggal di sini.
Terus saya ketemu Imran
Imran (nama di samarkan :)), tetangga Muslim, Post-doc Fisika dari Kashmir, India, suka fotografi, dan kalau ke kampus seringnya pakai style ala US (kaos + celana jeans). Lumayan agak akrab karena awalnya dia sering nyapa ramah anak saya.
Suatu hari dia lagi ngetest drone yang dia beli baru-baru ini, anak saya suka ngelihat dia mainin drone depan rumah. Ngobrol agak panjang dengan bahasa inggris pas-pasan, dan akhirnya sampai ke pertanyaan “ada rencana tinggal di sini?“. Jujur karena dia dari India, yang terkenal susah cari kerjanya dan dia udah bertahun-tahun studi di sini, pertanyaan ini berasa kayak basa-basi banget, udah ketebak jawabannya apa. Tapi agak kaget jawaban dia:
“Tidak. Orang yang mau tinggal di sini cuma orang yang tidak mau peduli dengan akhiratnya” [mak deg]
Sebelum lebih lanjut, kalimat dari Imran emang seakan nge-judge semua orang yang tinggal di sini nggak peduli dengan agama mereka. Saya nggak bisa komentar, karena saya nggak pernah tanya perkara agama ke orang-orang yang mutusin pindah sini dan apa dia juga niat bilang begitu. Yang saya mau highlight adalah: Melihat latar singkat dan cerita Imran, alasan #2 masuk banget buat dia, dibanding saya, dia lebih punya alasan untuk pindah dari negaranya, tapi ternyata, dia tetep pertimbangin agama. Ini kali pertama saya dapat jawaban itu. Dan bagi saya, itu menarik

The Coming Wave
Masih lanjutan artikel sebelumnya tentang buku di 2024, awal tahun ini saya putusin baca buku “The Coming Wave“. Buku itu bahas seputar gelombang perubahan teknologi, yang kesannya nggak ada hubungannya sama obrolan bareng Imran. Tapi saya nemu kemiripan yang bikin kepikiran beberapa hari.
Gelombang besar perubahan itu diawali dengan satu perubahan yang awalnya biasa aja, tapi dengan beberapa faktor, perubahan tadi teramplifikasi dan berdampak di banyak area. Contoh sederhana adalah ChatGPT yang lahir di 2022, dalam setahun nggak cuma orang IT yang merasakan dampaknya, tapi hampir semua lembaga jadi ngomongin AI: pemanfaatannya, masalahnya, risikonya, unsur legalnya, bahkan sampai ada diskusi panas di ranah agama.
Ketika kita putusin untuk pindah ke US, sebenernya kita sudah nggak langsung ciptain gelombang perubahan. Yang kerasa di kita ya perubahan untuk karir dan keluarga. Ngerasain petualangan baru dan gaya hidup baru. Tapi ada the coming wave yang mungkin sering kita lupa, dan Imran ngingetin saya di kalimat selanjutnya:
“Mungkin kamu masih bisa jaga agamamu, tapi gimana dengan anakmu? cucumu? bagaimana kamu bisa menjamin itu?“
Dan itu semua karena keputusan kita untuk pindah ke sini.

Semua kembali ke niat
Sampai hari ini, secara umum saya masih ngerasa hidup beragama Islam di US (tepatnya di Orlando, FL) itu lebih susah dibanding di Indonesia. Walau ada beberapa masjid gede, mushola di kampus, dan komunitas muslim yang baik dan rame, tetep kerasa nggak segampang itu. Jadi kalau dipikir dari segi agama saja, bagi saya pribadi, saya belum nemu apa alasan saya harus mempertimbangkan pindah ke US? Tawaran tawaran menarik di sini masih belum sampai bikin saya kepikiran untuk pertimbangin tinggal di sini.
Imran tinggal di Kashmir, wilayah yang banyak konflik dengan pemerintah India karena mayoritasnya penduduknya Muslim. Cari kerja di India jauh lebih susah dibanding di US, dan dia belum dapat kerja di sana sampai sekarang di usia lewat 35 tahun. Tapi ketika ditanya “Apakah pingin tinggal di sini?”, dia bisa pede dan tegas untuk pilih jawab “tidak”.
Tapi lagi-lagi, kita nggak boleh asal judge. Setiap orang punya alasan sendiri punya pertimbangan sendiri yang nggak bisa kita pahamin cuma dengan ngobrol singkat. Nyatanya, pernah nonton juga cerita orang-orang muslim bahkan dari Indonesia yang bisa sampai buat pesantren atau bangun masjid dan menghidupkan komunitas muslim di US.
Jangan lupa juga, luasnya negara Amerika bikin kita harus lebih nahan diri untuk nge-judge. Lingkungan agama di satu tempat nggak bisa dibandingin dengan tempat lain walau sama-sama di Amerika. Yang perlu kita ingat, buat diri kita ke depan, baiknya alasan dan pertimbangan apapun itu juga mempertimbangkan agama.

Penutup
Tulisan ini awalnya lebih ke kenang-kenganan pernah ketemu Imran, yang sudah pindah kampus karena Professornya juga pindah awal tahun ini. Bisa jadi nggak akan ketemu lagi.
Obrolan ini ketika muncul bener-bener lebih ke pengingat buat saya pribadi. Qaddarullah, di hari-hari terakhirnya, dapet obrolan yang nge-refresh niat setelah 2.5 tahun jalan S3. Keputusan lanjut studi ke sini dulu bukan ujug-ujug “Oke, gas” ketika diajakin dan dapet tawaran. Dan semoga niat awal itu tetep terjaga dan lebih baik lagi.
Update: Di Indonesia lagi muncul tag #kaburajadulu efek pemerintahan yang lagi “embuh”. Post ini bukan berarti saya nggak mendukung tag itu, sebaliknya, saya mendukung kok 🙂 tapi tetep sebaiknya ketika kita kabur ya jangan cuma pertimbangin “duit” tapi mesti “lebih dari itu”.
Gambar cover ini diambil dari puzzle gratisan yang saya dapet dari Perpustakaan kota. Kalau dilihat-lihat lukisan di puzzle ini kerasa amerika banget.