Alhamdulillah tiga minggu di Orlando, Florida, ada banyak hal menarik yang “beda” dari bayangan ketika akan ke Amerika. Seperti yang saya tulis di akhir artikel sebelumnya tentang perjalanan dan persiapan studi. Aktivitas pertama di Florida adalah sholat Jumat di kampus, dengan tenang dan nyaman.
Trivia: dulu pernah bimbing mahasiswa yang nama belakangnya Orlando. Pas saya tanya, kamu lahir di sana? dia bilang, enggak Pak, Orlando itu kata orang tua saya artinya “Ora Lali Ndungo” (Tidak lupa berdoa) 🙂
Muslim di Orlando
Di daerah sekitar UCF banyak imigran dari negara muslim, Pakistan, Saudi Arabia, Bangladesh, dsb. Cukup banyak sampai ada masjid besar yang didirikan dekat UCF, masjid Al-Malik. Masjid ini katanya baru didirikan. Kalau naik mobil dari kampus sekitar 12 menit kalau nyepeda bisa sekitar 30 menit. Saya beberapa kali sholat maghrib di sini, naik sepeda dari apartemen. Tapi sejak musim badai lagi ramai, mendung gelep tiap sore, jadi lebih belum berani nyepeda ke sini lagi.

Kalau untuk sholat jumat, karena banyak mahasiswa muslim di sini, selama ini alhamdulillah bisa Jumatan di kampus. Di UCF ada ruang yang biasa digunakan untuk sholat Jumat, lengkap dengan tempat wudhunya yang nyaman (nggak perlu ngangkat kaki ke westafel).
Jumat terakhir kemarin karena sudah masuk kuliah, pesertanya pun tambah banyak jadi kita pakai ruangan yang lebih besar lagi untuk sholat. Jamaahnya pun beragam dari berbagai ras dan suku, nggak hanya yang dari daerah India dan Timur Tengah. Di UCF sholat jumat diadakan dua waktu dengan selisih waktu satu jam (durasi jumatan sekitar 30 menit), untuk menyesuaikan waktu kuliah. Jadi kalau ada jamaah yang harus kuliah di salah satu waktu atau semisal ada keperluan lain kayak jemput anak, bisa ikut jamaah di waktu yang beda.

Kalau untuk sholat sehari-hari, saya, Ardhi (teman S3 asal Indonesia), dan Mansour (Mahasiswa S3 asal saudi) alhamdulillah biasa jamaah di dalem lab untuk Dzuhur dan Ashar. Mayoritas temen-temen lab alhamdulillah adalah muslim. Jadi tidak sungkan untuk sholat di dalem lab. Dan karena sudah biasa sholat di lab, sudah ada spot khusus dan meja untuk menampung sarung dan sajadah. Sangat kondusif. Alhamdulillah. Bener-bener nggak kebayang kalau akan bisa mudah sholat di sini.
Tapi jadi muslim bukan cuma sekadar sholat, bagaimana dengan makanan? Sebelum berangkat saya dapat wawasan baru seputar sembelihan daging di negara non-muslim. Saya mengambil pendapat, untuk daging di Amerika yang mayoritas adalah ahli-kitab (Yahudi/Nasrani) maka dagingnya Halal, berbeda jika kita berada di negara yang mayoritas bukan ahli-kitab seperti India atau Jepang. Alhamdulillah itu memudahkan. Saya bisa tenang beli daging di supermarket. Selain itu, di sini juga kita bisa temuin banyak rumah makan dengan label Halal di pintu depannya. Salah satunya yang beberapa kali kami kunjungi adalah Ahmed, rumah makan india, ada juga the Halal Guys yang lumayan terkenal.
Yang masih belum biasa
Menjadi muslim di sini yang masih belum biasa adalah waktu sholat yang “tidak normal” bagi saya. Di Indonesia saya sering pakai waktu sholat untuk patokan aktivitas. Misal mandi sore menjelang maghrib, makan setelah isya, pulang kerja setelah ashar, dsb. Di sini sayangnya nggak bisa gitu. Waktu maghrib sekarang jam 8 malam, waktu sholat Isya jam 9, sedangkan waktu ashar sore jam 5 lebih. Kalau beraktivitas ngikutin waktu sholat, berasa bingung banget.
Selain itu, walau daging halal, tidak semua makanan non-daging itu halal. Setiap belanja bahan makanan atau snack, perlu diperhatikan betul komposisinya. kadang perlu browsing dulu untuk memastikan halal atau nggak kandungannya. Karena babi banyak dipakai sebagai gelatin di sini, untuk memberi tekstur kenyal di beberapa jenis makanan. Untuk beli minuman, juga hati-hati sama kandungan alkoholnya.

Tantangan lain bagi saya, karena saya yang nggak bisa-bisa adalah perkara bahasa Inggris 🙁 . Dengan nilai IELTS ngepas, ternyata itu nggak cukup bikin saya “mulus” komunikasi di sini. Beberapa kali disapa orang pas lagi jumatan atau di masjid, kadang diajak ngobrol, tapi karena saya susah sekali ngobrol pakai bahasa Inggris (dan juga mendengarkan), kadang kok saya ngerasa jadi kurang ramah. Jumatan ndengerin ceramah pakai bahasa Inggris juga susah banget, karena ada kosakata-kosakata yang nggak pernah kebayang sebelumnya. Semoga segera membaik.
InsyaAllah kalau sempat akan ada catetan lain seputar kehidupan di sini. Hal-hal unik yang saya temui, termasuk burung gede (sejenis bangau?) di tengah jalan menuju kampus. Semoga jadi catetan dan kenangan di sini.
