Ulas Buku #2: Cerita Binatang

Dari jaman sering nonton film, saya selalu lebih suka film yang kalau karakter utamanya binatang, film itu terinspirasi dari dunia dan perspektif binatang itu, semisal Finding Nemo atau Ice Age, dibanding film yang karakternya binatang tapi sebenarnya dominan ceritanya lebih “manusiawi”, seperti Surf’s Up atau, controversially, The Lion King. Karena dengan bentuk yang pertama, penonton bisa tambah wawasan baru seputar dunia yang berbeda. Dan bagi saya itu menarik.

Dan ternyata ketika pilih buku anak bertema binatang, saya punya pereferensi yang sama.

Ursula Upside Down

Buku ini ada di list rekomendasi buku anak dari perpustakaan sini. Tertarik sama cover dan judulnya, oke pinjem dulu dari perpustakaan. Pinjem online dan dianter ke rumah. Setelah baca, ternyata buku ini menarik banget untuk diinget-inget. Buku ini bercerita tentang Ursula, ikan lele yang berenangnya upside down / kebalik. Dia selalu happy dan nggak pernah ngerasa ada masalah dengan kebaliknya, sampai akhirnya ada ikan lain yang ngasih sadar dia kalau dia berbeda.

Dari konsep cerita. Saya suka buku ini karena ceritanya singkat dan sederhana. Bagian pengenalan di awal rasanya smooth, ngenalin kepolosan Ursula sekaligus keunikan sudut pandang dunia dari sisi dia, semisal “cahaya matahari bersinar dari bawah”. Dialog dan teks yang ada juga pendek. Misalnya, ketika mulai masuk ke bagian masalah, satu ikan lain cuma komentar “kok kamu kebalik?” dengan cara yang sopan dan ringkas. Masalahnya juga nggak berbelit-belit, saya inget cuma 1 halaman nunjukin Ursula bingung, lalu langsung masuk ke resolusi.

Pas bacain buku ini anak usia masih 2 tahunan dan inget banget habis 1-2x bacain buku ini ternyata halaman ini keinget banget. Anak sering ngulangin “Upside down? me? hah?”

Yang unik. Selain illustrasinya yang nyenengin, konsep bukunya juga unik, di halaman-halaman pertama, kita seakan-akan baca bukunya kebalik. Karena kita lihat dari sudut pandang Ursula. Tapi nanti di tengah-tengah, ada momen kita perlu memutar bukunya karena Ursula sadar ternyata ada yang salah, dan memutar lagi di akhir setelah Ursula kembali pede dengan kebaliknya dia.

Halaman pertamanya catchy dengan ngelihatin sudut pandang Ursula dulu

Hikmah. Sebenernya, dari awal sampai tengah saya suka banget bukunya. Apalagi di akhir buku diceritain kalau ikan lele yang berenang kebalik itu beneran ada. Tapi untuk hikmah yang bisa dipetik, kalau dibaca sendiri, saya kok kurang terlalu suka resolusinya yang memberatkan “kata siapa kebalik? banyak kok binatang lain yang juga kebalik“, dengan penekanan di bagian “kata siapa?“. Menurut saya, hikmah dari cerita buku ini lebih ke pede aja dengan perbedaan, tapi gara-gara penekanan “kata siapa? / Says who?” saya ngerasa ini jadi agak lebih offensif ke orang yang memberi tahu.

Tapi in general, lumayan suka buku ini, apalagi ngelihat gimana penulis mengangkat karakteristik ikan yang unik dan disambung cerita yang ada hikmahnya.

There’s a Lion in the Forest!

Kalau buku ini agak lupa dari mana bisa tahu, kayaknya cuma asal random ambil dari rak buku di perpustakaan. Kalau buku Ursula itu buku yang modelnya 1 cerita tanpa pengulangan, buku There’s a Lion in the Forest ini modelnya repetitif. Di buku ini diceritain gimana binatang-binatang di hutan amerika latin jadi was-was ketika mendengar dan melihat sesuatu yang mirip singa. Repetitifnya dari: satu binatang yang denger/lihat > kabari yang lain > yang lain nggak percaya > mereka denger/lihat juga > kabari yang lain > dst.

Dari konsep cerita. Dulu pernah sempat baca buku yang modelnya repetitif No Bear Anywhere. Menurut saya, membuat buku anak yang modelnya repetitif itu menantang. Apalagi di buku ini tiap repetisinya dia nyeritain ciri lain dari makhluk yang dikira singa. Ini jelas nggak gampang. Karena kalau cuma sedikit cirinya repetitifnya jadi kerasa nanggung. Tapi penulis berhasil membaginya dengan baik.

Yang unik. Disetiap repetisinya, kita akan dikenalin jenis binatang yang khas hutan amerika dengan dialog yang juga berbeda-beda. Pemilihan kosa kata yang juga berima untuk mendeskripsikan singa juga lumayan cerdas rasanya, kayak “growly growl”, “menacing mane”. Berhasil bikin repetitif yang nggak mbosenin. Bagian resolusinya juga bagus. Di awali dengan kaget “oh ternyata…” tapi tetep ditutup dengan hangat dan kembali ke “ya betul kita punya singa di hutan!”.

Hikmah. Sebenernya, kerasa nggak terlalu berhikmah buku ini. Buku ini lebih ngajarin untuk mengamati dan berpikir logis. Di bagian akhir, si-“singa” (spoiler: yang ternyata bukan) ini tetep ngeyel minta dianggep singa, dan binatang-binatang lain bukan yang terus maksain tapi tetap mengiyakan dengan hangat dan baik tapi tetap menjelaskan.

Buku ini baru-baru ini ku pinjem lagi dari perpus, karena pingin lihat gimana toddler melihat buku yang sama ini setelah setahun jalan 🙂

Penutup

Sebenernya ada buku-buku binatang unik lain, seperti I am not a chair yang pas saya bacain, untuk pertama kalinya toddler bisa ketawa karena paham ada yang lucu di bukunya. Semoga ada waktu untuk ulas lagi, atau seenggaknya untuk ngelist buku-buku menarik lainnya.

By Rian Adam

Student at University of Central Florida; Lecturer at Universitas Islam Indonesia; Machine Learning Enthusiast;

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *