Sejak di US dan bacain buku anak, tiba-tiba sering nggumun sama kreativitas para penulisnya. Nggak tahu juga itu apakah style penulisan buku di Indonesia yang beda atau memang saya yang kurang banyak update tentang buku-buku anak yang bagus di Indonesia.
Setelah nge-log lebih dari 100 judul buku yang kebanyakan pinjem dari perpustakaan sini, tiba-tiba jadi kepingin buat mendokumentasikan buku-buku anak yang pernah dibaca dengan lebih proper. Tujuannya untuk meng-capture dan nginget-inget kreativitas penulis buku-buku anak yang sempet bikin saya nggumun
Sebentar tentang mereview
Waktu ngajar kelas Game Dev di UII beberapa tahun lalu, saya minta setiap mahasiswa harus mereview satu game, dan mempresentasikannya. Tujuannya, agar ketika mahasiswa diminta membuat game, mereka lebih kebayang bagian mana menarik dan bagian mana yang kurang. Saya pribadi ngerasa mereview gini bagus untuk ngelatih otak biar nggak cuma “menurutku bagus” atau “menurutku jelek”, tapi kita jadi bisa lebih detail mengutarakan kenapa kok bagus dan kenapa kok jelek.
Karena saya nggak ada pengalaman di buku anak, maka target dari post ini dan post-post ulas buku selanjutnya adalah untuk ngelatih saya untuk lebih tajam ngelihat apa yang menarik dan kurang menarik dari suatu buku. Saya yakin post review pertama ini akan berantakan.
Sundays are for Feasts
Info buku: Amazon


Buku ini bercerita tentang Yasmin yang diminta tolong buat hummus di hari Minggu ketika saudara-saudaranya akan datang kumpul di rumahnya. Konflik batin muncul selain karena ini pertama kalinya bikin hummus, pamannya juga dikenal galak jadi dia khawatir kalau pamannya bakal nggak suka.
Dari konsep cerita. Fokus utama ceritanya simpel: Kegalauan Yasmin karena takut kalau pamannya nggak suka hummus yang dia buat. Kegalauan ini menurut saya relate dengan anak-anak. Perasaan takut sama komentar orang yang sebenernya cuma terjadi dipikiran kita. Perasaan takut untuk mencoba hal baru yang sebenernya kita bisa. Perasaan dapat tugas yang berat sekali padahal orang di sekitar kita sebenernya (bisa) bantuin. Menurut saya ini inti hikmah dari buku ini: Jangan takut untuk coba dulu.

Yang unik. Alur bukunya dikemas seperti buku masak yang jelasin step-by-step buat hummus. Tapi karena fokusnya kegalauan Yasmin, semua proses masak cuma main perasaan dari sudut pandang Yasmin: “1 siung bawang? 2 siung? kayaknya 3 enak”, atau malah tiba-tiba tertarik sama kacang yang bentuknya kayak muka senyum. Sesekali di tengah proses masak kita dapet tambahan cerita kayak Yasmin lagi belajar bahasa Arab atau Yasmin yang ngeluh beberap kali ke Ayahnya kok nggak ayahnya aja yang bikin Hummus
Dari desain. Suka banget sama desainnya dan layoutnya. Desain bukunya sederhana banget. Latar putih nggak terlalu rame hanya nampilin sedikit objek. Objek-objeknya juga kerasa dibuat gede dan close up. Semua objeknya disederhanain, bisa dilihat dari desain jari dan tangannya. Kombinasi warnanya juga unik, kontras, tapi kayak sesuai tema. Teksnya ditulis di latar putih juga bikin lebih enak bacanya (apalagi kalau dibaca setengah gelep pas mau nidurin anak)

Komentar
Ini pendapat pribadi, dan ini akan jadi bias dari buku-buku yang saya ulas nantinya. Sampai saat ini, saya selalu suka ketika buku anak itu bukan cuma sekadar cerita dengan tujuan menyampaikan suatu hikmah, tapi juga ngenalin hal-hal baru yang bisa nambah pengetahuan atau sisi eskplorasi anak. Hikmah itu utama, karena itu tujuan awal buku anak, tapi dengan taburan sedikit-sedikit info menarik, anak atau orang tua bisa coba kembangin pengetahuan anak. Buku ini contohnya.
Hikmah dari buku ini: Jangan takut untuk coba dulu. Tapi karena dikemas ala buku masak, kita bakal ketemu sama bahan masakan atau alat yang bisa jadi asing di telinga. Benda-benda ini nggak ganggu alur utama, yang kalau mau di skip tanpa kita jelasin juga ceritanya bakal tetep menarik. Tapi, ini bikin ada kesempatan untuk ngembangin ceritanya.

Sebagai contoh, saya inget ketika istri bacain pertama buku ini ke anak saya yang umur 2 tahunan dia ngeh dengan timer yang dipakai Yasmin. Dia ngiranya itu jam. Istri cerita kalau itu timer, dan kita punya di dapur untuk masak juga, tapi bentuknya beda, dari sini jadi agak panjang obrolannya. Menariknya, timer ini bukan bahasan di bukunya. Di halaman itu, Yasmin tidak bahas timer, tapi objek itu ada (dan gede, jadi jelas). Yasmin di situ ceritanya malah nyanyi dengan ibunya sambil nunggu matang masakannya.
Ketika objek timer itu nggak ada, cuma fokus yasmin nanyi sambil nunggu matang masakannya, jadinya ya cuma itu yang kita bisa ceritakan. Tapi sebaliknya, kalau bahasan timer itu terlalu detail, rasanya malah mengganggu cerita utama.
Dan selain info-info tentang bahan atau alat masak, yang juga kerasa buku ini ngenalin sekilas budaya di sana. Acara kumpul keluarga ini dijadiin seakan budaya yang umum di sana, penggunaan kosa kata bahasa Arab (atau Lebanon) juga menarik jadi cerita lebih lanjut nantinya. Di akhir buku ada tambahan info kayak definisi kosakatanya, resep hummus, atau catatan penulis yang bikin pembaca dewasa lebih bisa ngembangin tentang cerita budaya yang mau dibahas.
Wallahua’lam semoga bermanfaat!
Ditunggu lebih banyak lagi ulasannya!
“Kegalauan ini menurut saya relate dengan anak-anak.”
Setuju sekali sama bagian ini. Kita yang dewasa ini mudah untuk cari hikmah di setiap kejadian. Tapi anak belum punya skill itu.
It would be helpfull for kids to read something that have their problem captured and validated sincerely, long before trying to preach any lesson.