Nasihat singkat dari supervisor S3 yang membuka mata, kalau riset itu adalah “usaha untuk menyelesaikan masalah” yang berarti kita juga mesti siap untuk bisa gagal nemuin solusinya.
Rocket Science
Beberapa waktu lalu diajakin temen ke Kennedy Space Center. Pas browsing-browsing awalnya ngira tempatnya bakal mirip Taman Pintar di Jogja tapi dengan tema luar angkasa. Tapi ternyata lebih dari itu, sepulang dari sana tiba-tiba suasananya beda.

Kennedy Space Center ini tempat wisata edukasi tentang luar angkasa yang dioperasikan oleh NASA. Ada banyak hal seru yang bisa kita nikmati di sana. Beberapa jam di sana kemarin kita bisa menikmati barang-barang peninggalan NASA, penjelasan-penjelasan teknologi yang dipakai secara interaktif, termasuk pesawat ulang-alik Atlantis, dan semua itu dikemas bener-bener fun buat anak ataupun dewasa. Dan kalau pas jadwalnya, kita bisa secara langsung nobar Rocket Launch. Yups, bener-bener roket yang terbang ke luar angkasa.
“Failure is not an option”
Kunjungan ke Kennedy Space Center bikin inget beberapa film tentang luar angkasa yang menginspirasi, seperti Hidden Figures atau October Sky. Yang pas nonton aja udah bikin amaze. Pas sampai sini ternyata pesan-pesan yang sama itu terus digaungkan dan bikin semakin amaze tentang perjuangan riset tentang luar angkasa.
Super takjub sama gimana caranya orang-orang dulu bisa berjuang, belajar, riset untuk mencapai suatu titik yang belum pernah umat manusia capai. Apalagi komputer belum secanggih sekarang, pengetahuan dan komunikasi masih terbatas, tapi mereka sudah membuat hitungan yang luar biasa detail dan kompleks untuk memastikan para astronot bisa pergi dan pulang. Bener-bener wujud nyata keberhasilan riset.
Tapi seperti kata supervisor saya, riset itu “sometimes we hit the wall“. Dan iya saja, sebenarnya roket-roket yang terbang sekarang itu adalah hasil riset yang sudah melalui banyak masa-masa “hit the wall” alias kegagalan. Banyak pengorbanan yang dilakukan, banyak tragedi yang memakan korban jiwa, waktu puluhan tahun, dan tenaga para periset di sana. Tapi ya seperti itu mungkin ya yang akan terus dirasakan ketika bekerja sebagai periset, rasanya apa-apa yang dikerjakan dan diusahakan bisa jadi abstrak banget dan bisa jadi nggak tahu kapan bisa dirasain manfaatnya.

Sepulang dari Kennedy Space Center, kerasa banget, NASA bener-bener ingin menginspirasi dan mengajak pengunjungnya untuk berani mengeksplor dan tidak mudah menyerah dalam segala hal. Sekadar tulisan “EXPLORE” jadi lebih berkesan karena yang bilang ini adalah lembaga top dunia dalam luar angkasa yang sangat pengalaman dalam hal riset dan eksplorasi.
Dan saya yang hanya “periset” kecil, mungkin belum bisa memberi dampak sebesar NASA. Tapi tidak ada salahnya untuk terus menjaga niat, hati-hati dalam bertindak, dan berdoa, semoga apa yang saya lakukan ini tidak sia-sia, beneran bermanfaat, dan bernilai pahala di akhir hayat.