Langsung ke konten utama

Structilmy


 Akhir tahun 2018 lalu, setelah diskusi sama istri beberapa kali, kami memutuskan untuk membuat sebuah "blog" di mana kami bisa berbagi ilmu seputar teknologi yang kami peroleh. Blog itu bisa dikunjungi di sini, namanya Structilmy.

Alhamdulillah, sudah beberapa artikel terbit selama beberapa bulan ini walau belum rutin-rutin banget. Sebenarnya, akhir-akhir ini saya malah terasa lebih semangat untuk menulis di sana. Mungkin karena jam mengajar sangat berkurang semester ini, menulis di sana bikin keinget serunya ngajar.

Nama blognya emang terkesan susah, tapi semua itu berawal dari niat membuatnya. Niat utamanya sederhana, kalau pinjam kata-kata dari buku CP nya Steven Halim:
Increasing the Lower Bound
Sebagai seorang pelajar, kami sadari selain terus belajar kami juga harus mempertanggungjawabkan ilmu kami. Jujur saja, saya pribadi belum bisa berkontribusi banyak atau membuat sesuatu karya yang dapat dirasakan manfaatnya. Karena saya tidak 100% di industri saya belum bisa membuat karya yang nyata, dan karena saya juga tidak 100% di akademisi, saya juga belum bisa melakukan riset yang nyata. Karenanya daripada saya menunggu 100%, kenapa tidak kita coba dari yang sesederhana berbagi ilmu? Membantu menjelaskan dengan bahasa kita apa yang telah kita pahami.

Bicara pada bidang yang saya dan istri tekuni, yakni Artificial Intelligence, kami melihat betapa besar jarak tertinggalnya pengetahuan dan teknologi kebanyakan kita -orang Indonesia jika dibandingkan orang-orang di luar sana. Bahkan di level "riset" baik di industri ataupun di akademisi, kita masih tertinggal. Apalagi yang di level penerapan.

Di sini saya mungkin terlihat meng-generalisir, toh masih banyak kok orang-orang Indonesia yang juga berprestasi dan berada di garis terdepan di bidang ini. Tidak sedikit kok yang kerja di Google, Apple, atau Facebook. Atau yang namanya mendunia karena karyanya. Tetapi saya di sini mencoba melihat dari hitungan persentase sederhana: berapa persen orang Indonesia yang menggeluti bidang teknologi dan berada di garis terdepan? 50%?

Seperti yang ramai dibicarakan (atau setidaknya yang saya petik) selama pesta politik kemarin, setiap masalah sebenarnya bisa dilihat dari dua sisi. Melihat ke depan dan bicara optimisme, kita masih punya banyak orang yang berprestasi dan yakin bisa memajukan indonesia. Atau melihat ke belakang dan bicara empati, kita masih punya banyak orang yang tertinggal jadi mari kita luangkan untuk berbagi.

Karena kita tidak akan pernah tahu ilmu mana yang kita miliki akan bermanfaat nantinya, jadi kenapa tidak mencoba berbagi semuanya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." [Al-Zalzalah: 7-8] Wah, sebenernya ayat ini dalem banget loh. ini berarti setiap tindakan kecil kita itu juga akan dipertanyakan di akhirat nanti. Kali ini mau saya bahas sedikit tentang "Sudah halalkah font kita". Ya, font yang kita pakai ini. Representasi wajah tulisan di web atau hasil ketikan di komputer. Lisensi Font Seperti apapun di dunia internet ini, semua berlisensi. Dan tahukah kalian, kalau font yang ada di komputer Windows itu sebenarnya juga tidak gratis, bahkan font-font yang kalian download dari situs-situs penyedia layanan font seperti Dafont , FontSquirrel , dan sebagianya itu juga tidak semuanya bisa digunakan seenaknya loh.

Sisi Gelap Jogja (?)

weh, ngeri banget judulnya, hehe sebenernya maksud pos ini adalah kisah duka di daerah jogja yang aku rasain sejak masuk UGM... sisi negatif itu  sebuah pendapat, tidak benar secara mutlak, dan bisa juga tidak salah secara mutlak nah, setelah 1 semester kuliah, yah, sudah pas 1 semester, kemarin siang baru aja registrasi semester 2, aku pingin menjawab sebuah pertanyaan yang aku dapet ketika promosi UGM di Surabaya: "Mas, Di Jogja katanya pergaulannya buruk? bener gak sih?" mungkin aku buka dulu dengan pendapat temen-temen jogjaku " Hmmm, menurutku tergantung komunitas yg dipilih apa dulu. DI jogja banyak banget komunitas mulai dari yg positif sampe yg negatif ada. Tergantung lingkungan kita tinggal di Jogja. Kalo menurutku overall asal kita gak aneh-aneh mau gabung ke komunitas yg negatif kayak komunitas 'coret-coret tembok' misalnya, ya pergaulan di kota Jogja relatif bagus sih gak buruk. Toh di sini masih ada budaya 'pekewuh' (tahu malu

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia

Perpustakaan UII Alhamdulillah, hari ini tepat 4 bulan saya jadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) . Memang, 4 bulan adalah waktu yang singkat untuk menilai suatu kampus. Tapi saya pribadi sudah nggak sabar pingin cerita banyak tentang UII. Saya yang dulu tidak pernah dengar nama kampus ini, sudah berkali-kali dibuat kaget sekaligus kagum dengan beragam hal yang saya temui 4 bulan ini. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang UII, versi 4 bulan jadi warga baru di UII. Kalau pingin tahu gimana seleksi dosen UII, bisa baca di sini . Universitas Islam Indonesia Kalau dulu ketika awal kuliah disuruh menyebutkan 3  nama ikan universitas swasta yang ada di Indonesia, mungkin yang teringat: Universitas Kristen Petra, kampusnya deket rumah Universitas Surabaya, beberapa kali lomba di sana Universitas Telkom, sering promo ke SMA Pertama kali denger nama "UII" dari temen kuliah saya. Dan pas itu saya ingat komentar, "loh itu beda ya sama Universitas Islam