Langsung ke konten utama

Setahun di Klaten


Kalau diinget, pertengahan Januari tahun lalu saya sama istri memutuskan untuk memindah barang-barang kontrakan kami dari Jogja ke Klaten. Jadi sudah lebih dari setahun sebenarnya saya tinggai di kota ini. Walau secara resmi saya dapat KTP Klaten baru di pertengahan Mei tahun lalu

Dengan latar saya yang tinggal belasan tahun di metropolitan Surabaya dan lima tahunan di Yogyakarta, rasanya ada banyak cerita dari mata pribadi yang bisa saya ceritakan tentang kota ini. Kota kelahiran istri saya.

foto random di Klaten

Seperti apa kotanya?

Kabupaten Klaten posisinya ada di antara dua kota yang lebih besar Jogja dan Solo. Rasanya pas banget di tengah-tengahnya. Klaten ke Jogja dan Klaten ke Solo sama-sama menempuh waktu sekitar 1 jaman perjalanan normal. Kalau saya melihat Klaten itu seakan dibagi jadi tiga bagian berdasarkan keramaiannya. Satu daerah Prambanan, satu Klaten Kota, dan satu daerah Delanggu (dekat solo). Karena di antara daerah tersebut hanya terlihat pemukiman sedikit, dengan sawah yang luas dan jalan besar penghubung Jogja-Solo.

Ya, karena berada di tengah-tengah kota besar, kota ini terasa hanya seperti keramaian di jalur antara Jogja-Solo. Bahkan ada jalan bypass yang melingkari kota ini, jadi kendaraan yang ingin ke Jogja atau ke Solo tidak perlu melalui bagian tengah kota ini. Tapi bagusnya, itu menjadikan klaten kota lebih tenang :)

Yang menarik di sini

Saya tinggal di Klaten Kota, dan yang menyenangkan di sini adalah rasanya kota ini tenang sekali dibanding Surabaya dan Jogja. Dengan luas kota yang tidak terlalu luas dan tingkat keramaian yang benar-benar tidak ramai, saya merasa tidaklah sulit untuk mencapai suatu lokasi dari rumah saya. Saya tidak masalah ke alun-alun untuk beli ronde yang enak atau bolak-balik ke stasiun untuk beli tiket kereta, atau ke toko buku pukul setengah 9 malam, jalanannya terasa mudah sekali.

Untuk makanannya harganya masih lebih murah dari Surabaya. Mungkin daerah Jogja sekitarnya harga apa-apa memang lebih murah. Yang khas dan terkenal di mana-mana adalah Sop Ayam Pak Min Klaten, yang malah saya belum pernah makan di Klaten. Selain iitu, ada banyak makanan-makanan yang khas yang rasanya baru saya temui di sini, seperti Soto Seger (asli boyolali) ada Bubur Lethok (bubur dengan sayur tempe/tahu, ini enak) ada juga Bubur Koyor, Soto Bebek, dan masih banyak lagi (bahkan yang terkenal juga ada rica-rica gukguk atau sweekee). Cafe-cafe dengan style modern juga ada kok di sini. rasanya, cita rasanya lebih beragam ketimbang di Jogja, mungkin karena Klaten yang berada di "tengah-tengah".

Yang menarik juga di sini karena dekat Boyolali yang terkenal dengan Sapi dan olahannya, kita bisa menemui banyak warung susu segar pas malam hari yang jadi tongkrongan anak-anak muda. Juga rumah makan steak "Star Steak" yang saya akui enak apa-apanya dan harganya sangat terjangkau! hanya berkisar 15ribuan. Jujur aja, semenjak kenal "Star Steak" Klaten, rasanya makan di "Waroeng Steak" Jogja itu kayak sia-sia banget ._.

Star steak deket stadion
Untuk adat dan budaya, di sini masih kental, daerah yang agak "pedesaan" punya tradisi-tradisi yang masih dilakukan sampai sekarang. Salah satu tradisi yang saya ikuti adalah "Sadranan" ini tradisi mendoakan leluhur kita, biasanya dilakukan menjelang Ramadhan. Di tiap daerah punya "bentuk" yang beda dari acara sadranana ini. Ada yang hanya sekedar menabur bunga dan mendoakan, ada yang pakai makan-makan di sepanjang jalan, ada yang menggunakan dupa-dupa dan lainnya.

Sama seperti daerah "Jawa" lainnya orang-orang di sini juga punya pribadi yang mirip, ramah-ramah dan penuh unggah-ungguh. Di sini sikap orang-orangnya tidak se-individualis orang-orang kota. Banyak kegiatan yang membuat kita akan saling berinteraksi dengan yang lain, ngobrol, kenalan. Karenanya, saya yang sebagai warga kota benar-benar masih terus memperhatikan apa yang baiknya dilakukan pada suatu momen. Hal yang sederhana adalah mengingat kosakata Bahasa Jawa Kromo (halus). Belajar bahasa jawa halus sangat penting untuk berinteraksi di sini.

Melihat satu jam ke depan

Seperti yang saya ceritkan di awal, kota ini berada satu jaman perjalanan dari kota Jogja. Dan karena saya dan istri punya aktivitas yang tidak sedikit di Jogja, maka yang menarik, hal ini menjadiakan kami berdua "manusia yang melihat satu jam ke depan". Iya, kalau kami siap-siap semua jam 7 artinya kami akan mulai beraktivitas jam 8 di Jogja nanti. Dan kalau kami pulang dari Jogja jam 3, kemungkinan sampai Klaten jam 4 an (bisa lebih karena jam pulang lebih macet).

Aktivitas Jogja-Klaten kadang sangat menguji fisik dan mental kami. Saya sering ngantuk di jalan (jika kurang tidur atau habis aktivitas berat di Jogja) dan akhirnya memutuskan istirahat sebentar entah di pinggir jalan atau di pom bensin. Semangat kerja juga bisa naik turun karena bisa jadi luntur di tengah panas perjalanan (kadang sampai Jogja, nyemangatin diri dengan minum kopi).

Tapi seperti kata orang "what doesn't kill you, make you stronger", insyaAllah saya tidak akan mengeluh dengan kegiatan ini, saya yakin suatu hari nanti saya akan terbiasa dengan pola ini dan menjadikan pribadi saya lebih baik dalam manajemen waktu dan tenaga, insyaAllah.

---

Itu sekilas tentang Klaten dari saya! saya buat catatan ini agar saya juga bisa lihat bagaimana bertahun-tahun lagi saya akan melihat Klaten :)

Komentar

  1. Assalamu'alaikum mas Rian,

    Saya ingin tanya apakah mas Rian Adam ini yang dulu pernah berkomentar ria di blog Anandastoon tentang masalah kaligrafi dan berteman dengan saya di Facebook beberapa tahun lalu?

    Sekarang Facebook saya yang lama sudah tidak aktif dan blog anandastoon.blogspot.com telah berganti jadi anandastoon.com.

    Saya lihat kamu di StackExchange bagian Puzzling. Ketika saya mampir ke blognya, saya pikir memang namanya sama dengan dulu yang pernah komunikasi dengan saya.

    Semoga benar orangnya hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh,

      masyaAllah, saya ingat sekali nama "anandastoon" tapi qadarallah saya kok lupa ya pernah kontak-kontakan via apa. Barusan cek situsnya dan lihat artikel kaligrafi terasa sangat yakin pernah baca artikel itu, iya saya dulu pernah belajar "randomly" tentang kaligrafi hehe. Sekarang sudah banyak yang lupa tapi masih banyak yang ingat juga. btw senang sekali lihat blognya masih update terus ya :)

      wah ketemu di puzzling? masnya juga aktif di sana ya? akunnya apa mas :)
      oh ya, dulu akun facebooknya apa ya? saya kok juga lupa-lupa

      Hapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejak disini

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." [Al-Zalzalah: 7-8] Wah, sebenernya ayat ini dalem banget loh. ini berarti setiap tindakan kecil kita itu juga akan dipertanyakan di akhirat nanti. Kali ini mau saya bahas sedikit tentang "Sudah halalkah font kita". Ya, font yang kita pakai ini. Representasi wajah tulisan di web atau hasil ketikan di komputer. Lisensi Font Seperti apapun di dunia internet ini, semua berlisensi. Dan tahukah kalian, kalau font yang ada di komputer Windows itu sebenarnya juga tidak gratis, bahkan font-font yang kalian download dari situs-situs penyedia layanan font seperti Dafont , FontSquirrel , dan sebagianya itu juga tidak semuanya bisa digunakan seenaknya loh.

Sisi Gelap Jogja (?)

weh, ngeri banget judulnya, hehe sebenernya maksud pos ini adalah kisah duka di daerah jogja yang aku rasain sejak masuk UGM... sisi negatif itu  sebuah pendapat, tidak benar secara mutlak, dan bisa juga tidak salah secara mutlak nah, setelah 1 semester kuliah, yah, sudah pas 1 semester, kemarin siang baru aja registrasi semester 2, aku pingin menjawab sebuah pertanyaan yang aku dapet ketika promosi UGM di Surabaya: "Mas, Di Jogja katanya pergaulannya buruk? bener gak sih?" mungkin aku buka dulu dengan pendapat temen-temen jogjaku " Hmmm, menurutku tergantung komunitas yg dipilih apa dulu. DI jogja banyak banget komunitas mulai dari yg positif sampe yg negatif ada. Tergantung lingkungan kita tinggal di Jogja. Kalo menurutku overall asal kita gak aneh-aneh mau gabung ke komunitas yg negatif kayak komunitas 'coret-coret tembok' misalnya, ya pergaulan di kota Jogja relatif bagus sih gak buruk. Toh di sini masih ada budaya 'pekewuh' (tahu malu

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia

Perpustakaan UII Alhamdulillah, hari ini tepat 4 bulan saya jadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) . Memang, 4 bulan adalah waktu yang singkat untuk menilai suatu kampus. Tapi saya pribadi sudah nggak sabar pingin cerita banyak tentang UII. Saya yang dulu tidak pernah dengar nama kampus ini, sudah berkali-kali dibuat kaget sekaligus kagum dengan beragam hal yang saya temui 4 bulan ini. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang UII, versi 4 bulan jadi warga baru di UII. Kalau pingin tahu gimana seleksi dosen UII, bisa baca di sini . Universitas Islam Indonesia Kalau dulu ketika awal kuliah disuruh menyebutkan 3  nama ikan universitas swasta yang ada di Indonesia, mungkin yang teringat: Universitas Kristen Petra, kampusnya deket rumah Universitas Surabaya, beberapa kali lomba di sana Universitas Telkom, sering promo ke SMA Pertama kali denger nama "UII" dari temen kuliah saya. Dan pas itu saya ingat komentar, "loh itu beda ya sama Universitas Islam