Ketika Istri Memasak

Saya inget beberapa tahun lalu ketika lihat MasterChef Indonesia, saya sering nggak nyangka, gimana ceritanya seorang pengusaha mebel dan seorang guru menjadi peraih juara 1 dan 2 di MasterChef Indonesia. Reality show tersebut benar-benar men-trigger pertanyaan besar, apa iya orang yang bukan berlatar chef masih bisa menghasilkan masakan dengan kualitas di atas rata-rata?

Dan ternyata, iya, bisa saja.

Setelah menikah, setelah melihat bagaimana istri saya bisa menghasilkan beragam masakan yang "wah-wah" padahal nggak pernah yang namanya sekolah masak, saya jadi yakin bahwa memasak itu mungkin mirip dengan membuat program (coding).

Saya selalu bilang di awal kelas, "Pemrograman itu sebenarnya hanya terdiri dari tiga bagian penting: Input-output, Percabangan, dan Perulangan, tapi setelah itu dengan mengkombinasikan alur penggunaan tiga bagian itu kamu bisa membuat beragam aplikasi dari Flappy Bird hingga Microsoft Office"

Benar saja, jika kita bisa paham sifat-sifat bahan makanan yang ada, bagaimana proses dan alurnya bekerja, kita bisa menciptakan beragam kreasi masakan (mungkin) tanpa perlu bertahun-tahun sekolah -walau kayaknya pengalaman tetap akan berkata beda- dengan cara mengkombinasikan urutan bahan dan metode yang kita ketahui.

Dengan mengetahui bagaimana bahan-bahan itu saling membangun, kita jadi bisa memilih suatu bahan untuk menggantikan bahan yang lain, membayangkan rasa apa yang akan hilang dan muncul ketika menggunakan suatu bahan, atau sekadar lebih berhati-hati memperhatikan urutan pencampuran bahan karena proses kimiawi yang terjadi. Sehingga bisa menghasilkan masakan enak yang bukan sekadar "kebetulan".

...

Ya.. setidaknya itu yang selalu saya rasakan ketika melihat istri saya yang programmer sedang memasak :)

Cookies! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

Pengalaman: Buat Surat Pindah, KK, KTP,

Sisi Gelap Jogja (?)