Langsung ke konten utama

Finhacks 2018 #DataChallenge: Part 2

Lanjutan dari post sebelumnya

Setelah berhari-hari nungguin pengumuman, deg-degan ngelihatin turunnya peringkat, suatu hari pas lagi ngajar di D3 Komsi tiba-tiba dapet telpon yang nggak keangkat dari nomor Jakarta. Setelah googling, jadi tahu kalau itu nomornya DailySocial.id, salah satu penyelenggara Finhacks 2018. Agak deg-degan, karena penasaran akhirnya saya telepon balik....

dan Alhamdulillah.. dapat kabar kalau tim kami dinyatakan lolos final Finhacks 2018!! Yeay! Mas-masnya waktu itu telpon tidak hanya untuk ngabarin, tapi juga mengkonfirmasi apakah tim kami bisa hadir di Jakarta ketika final nanti.

Oh ya, tim kami juga naik peringkatnya jadi peringkat 3, ini karena dua tim lain yang di atas kami memilih untuk ikut final di kategori lain (timnya lolos final di dua kategori).

Halaman resmi pengumuman finalis

Yang saya rasakan sebelum kompetisi


Walau sudah diyatakan lolos, tetapi masih ada yang perlu disiapkan, saat itu ada beberapa poin yang jadi pikiran utama kami.

Yang pertama: proposal tesis. Bulan November lalu, istri saya menargetkan untuk submit proposal Tesisnya. jadi sampai minggu awal November, istri saya (yang notabene lebih ngerti dengan model yang disubmit di Finhacks) belum bisa fokus untuk ikut merancang presentasi. Dan saya, yang kurang ngerti dengan model yang disubmit.. cuma bisa mencoba mempelajari model tersebut dan teori-teori dibaliknya ._.

Dan setelah berhasil mengumpulkan berkas proposal pun, kami juga masih belum bisa benar-benar tenang. Karena final Finhacks 2018 itu 14 November, yang berarti di minggu yang sama dengan jadwal seharunya istri saya sidang proposal! Akhirnya kami berusaha mengontak penyelenggara untuk minta surat keterangan, dan istri saya berusaha meminta izin ke dosbing dan ke sekretariat untuk memastikan sidang proposal tidak diselenggarakan ketika kami di sana (atau sebelumnya). Ya... Alhamdulillah, untungnya, bisa.

Poin selanjutnya adalah mau seperti apa presentasinya? Kalau disimpulkan dari kata-kata Panitia dari panduan final, presentasi yang dilakukan harus bisa menarik para stakeholder, presentasinya harus bisa meyakinkan untuk semua kalangan (tidak hanya kalangan teknis) tentang model yang digunakan. Farah, temen kami yang bergelut di bidang ini juga ngasih banyak masukan yang juga memberi gambaran seperti apa slide kami nanti sebaiknya.

Kami ikuti panduan dari panitia dan juga saran dari Farah untuk membuat slide yang kami rasa cukup baik dan dapat diterima semua kalangan. Sayangnya, karena deadline pengumpulan presentasi yang terasa sudah begitu dekat, kami jadi merasa kurang optimal untuk  membuat presentasi kami. Tapi ya, bismillah... semoga dapat yang terbaik...

Bagian slide kami


Poin ketiga yang jadi pikiran kami adalah: Apakah hadiahnya akan halal? Secara yang menyelenggarakan adalah Bank Konvensional, dan kami juga tahu bagaimana hukum-hukum yang terjadi di dalamnya. Sebenarnya kami bisa saja tidak memedulikan hadiahnya, karena kami sudah cukup yakin kompetisi ini sudah memberi banyak pelajaran baru bagi kami. Kami sempat kepikiran untuk tidak ambil hadiahnya, atau sebagian besar disumbangkan, atau sebagainya.

Tapi yang namanya keraguan di kompetisi, nantinya ini pasti akan mempengaruhi persiapan kami menuju final. Untuk  lebih meyakinkan kami, akhirnya saya beranikan diri untuk tanya via chat ke Ust. Noor Akhmad Setiawan, Dosen Teknologi Informasi UGM yang juga memiliki pengetahuan yang dalam perihal Agama Islam. Dan begini balasan beliau saat itu:

[14:44, 11/7/2018] Ust Noor Akhmad: Kalau itu didapat karena lomba maka uang itu menjadi halal, karena itu semacam kompetisi pekerjaan.
[14:44, 11/7/2018] Ust Noor Akhmad: yang dilarang adalah ribanya

Alhamdulillah,.. sangat melegakan, dan membuat kami menjadi cukup yakin untuk berjuang memberikan yang terbaik di Final. Waktu itu terbesit kenapa tidak semenjak awal chat beliau, pasti lebih lega dari awal dan mungkin lebih fokus ketika penyisihan. Terus jadi teringat sama kata-kata ustadz yang saya lupa siapa,
"Jaman sekarang, manusia itu jauh dari ulama. Ketika ada suatu yang perlu diputuskan  hukumnya seperti apa, mereka menghukumi dengan akal dan nafsunya, atau... mencari ustadz untuk membenarkan jawabannya. Bukan lagi mencari kebenaran, tapi mencari pembenaran"


Masih bersambung...
Bukan sengaja dibikin-bikin kayak sinetron, tapi apa daya masih ada hal lain yang mengantri diselesaikan :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." [Al-Zalzalah: 7-8] Wah, sebenernya ayat ini dalem banget loh. ini berarti setiap tindakan kecil kita itu juga akan dipertanyakan di akhirat nanti. Kali ini mau saya bahas sedikit tentang "Sudah halalkah font kita". Ya, font yang kita pakai ini. Representasi wajah tulisan di web atau hasil ketikan di komputer. Lisensi Font Seperti apapun di dunia internet ini, semua berlisensi. Dan tahukah kalian, kalau font yang ada di komputer Windows itu sebenarnya juga tidak gratis, bahkan font-font yang kalian download dari situs-situs penyedia layanan font seperti Dafont , FontSquirrel , dan sebagianya itu juga tidak semuanya bisa digunakan seenaknya loh.

Sisi Gelap Jogja (?)

weh, ngeri banget judulnya, hehe sebenernya maksud pos ini adalah kisah duka di daerah jogja yang aku rasain sejak masuk UGM... sisi negatif itu  sebuah pendapat, tidak benar secara mutlak, dan bisa juga tidak salah secara mutlak nah, setelah 1 semester kuliah, yah, sudah pas 1 semester, kemarin siang baru aja registrasi semester 2, aku pingin menjawab sebuah pertanyaan yang aku dapet ketika promosi UGM di Surabaya: "Mas, Di Jogja katanya pergaulannya buruk? bener gak sih?" mungkin aku buka dulu dengan pendapat temen-temen jogjaku " Hmmm, menurutku tergantung komunitas yg dipilih apa dulu. DI jogja banyak banget komunitas mulai dari yg positif sampe yg negatif ada. Tergantung lingkungan kita tinggal di Jogja. Kalo menurutku overall asal kita gak aneh-aneh mau gabung ke komunitas yg negatif kayak komunitas 'coret-coret tembok' misalnya, ya pergaulan di kota Jogja relatif bagus sih gak buruk. Toh di sini masih ada budaya 'pekewuh' (tahu malu

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia

Perpustakaan UII Alhamdulillah, hari ini tepat 4 bulan saya jadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) . Memang, 4 bulan adalah waktu yang singkat untuk menilai suatu kampus. Tapi saya pribadi sudah nggak sabar pingin cerita banyak tentang UII. Saya yang dulu tidak pernah dengar nama kampus ini, sudah berkali-kali dibuat kaget sekaligus kagum dengan beragam hal yang saya temui 4 bulan ini. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang UII, versi 4 bulan jadi warga baru di UII. Kalau pingin tahu gimana seleksi dosen UII, bisa baca di sini . Universitas Islam Indonesia Kalau dulu ketika awal kuliah disuruh menyebutkan 3  nama ikan universitas swasta yang ada di Indonesia, mungkin yang teringat: Universitas Kristen Petra, kampusnya deket rumah Universitas Surabaya, beberapa kali lomba di sana Universitas Telkom, sering promo ke SMA Pertama kali denger nama "UII" dari temen kuliah saya. Dan pas itu saya ingat komentar, "loh itu beda ya sama Universitas Islam