Machine Learning dan AI Summer School

Gambar
Di tengah pandemi ini, salah satu hikmah yang bisa saya petik adalah banyaknya kegiatan offline yang biasanya mahal dan susah dicapai karena harus ke luar negeri, tapi jadi bisa diikutin secara online dan harganya murah. Salah satu kegiatan itu adalah Summer School. Di tahun 2020-2021 ini saya alhamdulillah dapat kesempatan join di dua kegiatan internasional bertajuk Summer School: Machine Learning Summer School (MLSS) 2020 dan PRAIRIE/MIAI AI Summer School (PAISS) 2021 . Di artikel ini saya akan cerita sedikit pengalaman saya mengikuti kegiatan Machine Learning atau AI Summer School, apa menariknya, dan bagaimana cara ikutnya. Machine Learning Summer School (MLSS) 2020    Di tengah tahun 2020 saya alhamdulillah dapat kesempatan ikut salah satu event Machine Learning Summer School (MLSS) yang diselenggarakan di Indonesia dengan penyelenggaranya adalah Telkom University dan University of Amsterdam. Saya bilang "kesempatan" karena untuk ikut kebanyakan kegiatan sejenis summ

5 Bulan

Malem ini tiba-tiba keinget blog ini yang udah lama banget ditinggal sejak menikah. Entah, walau mengiyakan kata-kata Tohir bahwa menikah membawa banyak inspirasi, tapi rasanya menceritakannya ke luar jadi enggak semudah biasanya.

Bukan karena enggak ada waktu juga, atau jadi sulit bercerita. Cuman, menuangkan pikiranku langsung ke seseorang yang selalu mau mendengarkan walaupun sedang repot masak telur di dapur, itu rasanya lebih melegakan. Dan kadang memunculkan rasa sudah berhasil "Post" sebuah artikel :)

Gimana kalau coba cerita kesan-kesan setelah menikah?
Hmm.. kalau penasaran sih tanya langsung aja, bukan tipe cerita di depan umum apalagi topik seperti ini. Takut disalahartikan.

Disalahartikan bagaimana? Satu sisi bagi kita, mungkin kisah-kisah setelah nikah seperti itu jadi bisa diambil sebuah hikmah, sebuah pengalaman yang berharga dan bermanfaat. Tapi aku kadang juga kebayang sebuah sisi lain di mana orang lain bisa jadi menganggap pernikahan yang diceritakan merupakan pernikahan yang "ideal", yang "seharusnya", yang "beruntung", atau sejenisnya.

Dan takutku ketika mereka masuk ke dunia pernikahan, dan menemukan perbedaan cerita dari artikel yang mereka baca, mereka merasa berada pada pernikahan yang "tidak ideal", yang "tidak seharusnya", yang "tidak beruntung", atau sejenisnya. Padahalkan pernikahan itu cerita hidup kita yang tidak perlu dibanding-bandingkan, ibarat rizqi seseorang, semua ada jatah cukupnya, ada jatah lebihnya, tinggal bagaimana kita bisa bersyukur.


**

Pikiran di tengah malam sambil belajar-belajar, kayaknya mau coba aktifin nulis-nulis lagi setelah ini :/

Komentar

  1. Ceritain kisah ketemu sampai nikahnya dong kak..

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejak disini

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

Sisi Gelap Jogja (?)

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia