Langsung ke konten utama

Bogor [3]: Karena apa kau mencintainya

Ada sela-sela waktu kosong pas kegiatan PIMNAS di sana, beberapa kali diisi lihat-lihat IPB, ke bazar PIMNAS, atau duduk-duduk ngemil, atau ngobrol bercanda biar semakin kenal.

Suatu waktu pas kita ngobrol rame-rame antara kaum Adam. Dan entah lupa gimana awalnya tiba-tiba ada yang memulai topik untuk ngomongin seorang cewek. Ceritanya, ada seorang cewek yang emang lagi jadi bahan obrolan "favorit" di antara para cowok pas di PIMNAS sana. Awalnya aku ngira ini cuma kayak "rahasia umum", yang masing-masing saling tahu kalau cewek itu menarik tapi ndak akan ada yang berani mengobrolkannya, sampai akhirnya aku dapet kesempatan duduk di dalam ruang obrolan itu.

-ini sedikit fakta kecil, kadang cowok juga bisa nge-gosip-

Obrolan sudah mulai panjang mbahas cewek itu, tapi yang menarik dimulai ketika muncul pertanyaan:

A : "Eh menurutmu apa ya yang bikin dia menarik ya?"

B : "Hmm.. apa ya, manis sih senyumnya"
C : "Mirip artis itu bukan sih"
D : "Suaranya eh yang bening gitu"
E : "Ya emang udah cantik sih orangnya"

Sebenernya lumayan panjang dan juga saling lempar percakapannya. Tapi yang menarik yang jadi pikiranku pas itu,

"Apa tidak ada dari kalian yang coba perhatikan perangainya?"

oke, toh mereka juga tidak terlalu lama mengenalnya, jadi wajar sih. Dan mungkin sebenarnya pas pertama aku kenal cewek itu juga pikiranku tidak jauh beda dari mereka.

Menurutku, untuk kasus obrolan ini terjadi memang karna adanya kombinasi antara kita para cowok yang terlalu liar pandangannya dan para cewek yang terlalu mudah menebar dan menunjukkan kecantikannya. Tidak hanya salah satunya, dan kita tidak bisa saling menyalahkan kaumnya.

Tapi sebenernya sedih juga kalau ngeliat ada cewek yang diobrolin cowok-cowok karena kecantikannya. Kenapa? karena apakah nantinya itu yang menjadi alasan bagi kalian para cowok untuk mencintainya? dan apakah itu yang jadi harapan nantinya mereka akan mencintai kalian para cewek? Bukankah ada yang lebih mulia untuk dijadikan bahan penilaian?

Dan semoga pandangan kita para cowok bisa semakin terjaga, jangan sampai nantinya kecantikannyalah yang menjadi pertimbangan akhir ketika memilihnya. Dan aku berharap, semoga adekku, atau anakku (nanti) yang cewek atau semua kerabat cewek di dekatku, tidak dinilai oleh cowok-cowok di sekitarnya karna kecantikannya, karena rupa atau parasnya. Semoga kita dan mereka bisa dikuatkan untuk terus menjaga diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." [Al-Zalzalah: 7-8] Wah, sebenernya ayat ini dalem banget loh. ini berarti setiap tindakan kecil kita itu juga akan dipertanyakan di akhirat nanti. Kali ini mau saya bahas sedikit tentang "Sudah halalkah font kita". Ya, font yang kita pakai ini. Representasi wajah tulisan di web atau hasil ketikan di komputer. Lisensi Font Seperti apapun di dunia internet ini, semua berlisensi. Dan tahukah kalian, kalau font yang ada di komputer Windows itu sebenarnya juga tidak gratis, bahkan font-font yang kalian download dari situs-situs penyedia layanan font seperti Dafont , FontSquirrel , dan sebagianya itu juga tidak semuanya bisa digunakan seenaknya loh.

Sisi Gelap Jogja (?)

weh, ngeri banget judulnya, hehe sebenernya maksud pos ini adalah kisah duka di daerah jogja yang aku rasain sejak masuk UGM... sisi negatif itu  sebuah pendapat, tidak benar secara mutlak, dan bisa juga tidak salah secara mutlak nah, setelah 1 semester kuliah, yah, sudah pas 1 semester, kemarin siang baru aja registrasi semester 2, aku pingin menjawab sebuah pertanyaan yang aku dapet ketika promosi UGM di Surabaya: "Mas, Di Jogja katanya pergaulannya buruk? bener gak sih?" mungkin aku buka dulu dengan pendapat temen-temen jogjaku " Hmmm, menurutku tergantung komunitas yg dipilih apa dulu. DI jogja banyak banget komunitas mulai dari yg positif sampe yg negatif ada. Tergantung lingkungan kita tinggal di Jogja. Kalo menurutku overall asal kita gak aneh-aneh mau gabung ke komunitas yg negatif kayak komunitas 'coret-coret tembok' misalnya, ya pergaulan di kota Jogja relatif bagus sih gak buruk. Toh di sini masih ada budaya 'pekewuh' (tahu malu

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia

Perpustakaan UII Alhamdulillah, hari ini tepat 4 bulan saya jadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) . Memang, 4 bulan adalah waktu yang singkat untuk menilai suatu kampus. Tapi saya pribadi sudah nggak sabar pingin cerita banyak tentang UII. Saya yang dulu tidak pernah dengar nama kampus ini, sudah berkali-kali dibuat kaget sekaligus kagum dengan beragam hal yang saya temui 4 bulan ini. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang UII, versi 4 bulan jadi warga baru di UII. Kalau pingin tahu gimana seleksi dosen UII, bisa baca di sini . Universitas Islam Indonesia Kalau dulu ketika awal kuliah disuruh menyebutkan 3  nama ikan universitas swasta yang ada di Indonesia, mungkin yang teringat: Universitas Kristen Petra, kampusnya deket rumah Universitas Surabaya, beberapa kali lomba di sana Universitas Telkom, sering promo ke SMA Pertama kali denger nama "UII" dari temen kuliah saya. Dan pas itu saya ingat komentar, "loh itu beda ya sama Universitas Islam