Machine Learning dan AI Summer School

Gambar
Di tengah pandemi ini, salah satu hikmah yang bisa saya petik adalah banyaknya kegiatan offline yang biasanya mahal dan susah dicapai karena harus ke luar negeri, tapi jadi bisa diikutin secara online dan harganya murah. Salah satu kegiatan itu adalah Summer School. Di tahun 2020-2021 ini saya alhamdulillah dapat kesempatan join di dua kegiatan internasional bertajuk Summer School: Machine Learning Summer School (MLSS) 2020 dan PRAIRIE/MIAI AI Summer School (PAISS) 2021 . Di artikel ini saya akan cerita sedikit pengalaman saya mengikuti kegiatan Machine Learning atau AI Summer School, apa menariknya, dan bagaimana cara ikutnya. Machine Learning Summer School (MLSS) 2020    Di tengah tahun 2020 saya alhamdulillah dapat kesempatan ikut salah satu event Machine Learning Summer School (MLSS) yang diselenggarakan di Indonesia dengan penyelenggaranya adalah Telkom University dan University of Amsterdam. Saya bilang "kesempatan" karena untuk ikut kebanyakan kegiatan sejenis summ

Bogor [2] : Cendekiawan


Hari pertama di Bogor untuk membantu mempersiapkan keperluan kontingen PIMNAS UGM, dimulai dengan masalah konsumsi. Sempet kasihan lihat pak-pak ibu-ibu yang baru aja dateng gak ngerti apa-apa dan tiba-tiba harus mencari konsumsi di kota yang baru aja dikunjungi. Tapi ya gitulah dunia kerja.

Setelah muter-muter cari tempat dan melewati macet yang agak ndak karuan akhirnya berkat bantuan Pak Henri sebagai supir kita di sana dapatlah warung makan ayam kampung yang menyediakan menu yang cocok untuk semua kalangan.

Semua kalangan? iya kalau diinget salah satu bahasan paling sering selama kerja -parttime- di kantor ini adalah ke-wangun-an (kelayakan) sebuah makanan untuk disajikan ke kalangan tertentu. Karena percaya atau ndak, aku sering banget denger cerita ibu-ibu yang "ditegur" hanya karena pesenan makanan kurang wangun walaupun kalau menurutku makanan seharga 25-30ribu perkotak itu sudah sangat wangun.

Dan hal itu kejadian lagi kemarin pas di Bogor, datang lagi teguran karna makanan yang disajikan malam sebelumnya kurang "sip" atau layak untuk kalangan tersebut. Teguran ini datang langsung dari salah satu dari mereka.

Sebenernya ibu-ibu yang ngurusin konsumsi mungkin ngerasa biasa aja dengan teguran tersebut. Karena selain udah biasa mungkin beliau juga tahu emang itu pekerjaannya. Tapi yang kadang bikin sedih lebih ke siapa penegurnya, iya sesuai judul post ini, kalangan yang aku maksud adalah para kaum cendekiawan, para dosen.

Kadang mungkin aku nya yang telalu naif atau bagaimana, karna kukira jadi dosen atau guru itu penuh pengabdian, yang tidak terlalu mempermasalahkan materi yang diperoleh, apalagi sekedar masalah makanan.

Komentar

  1. Pernah ngalami juga yan aku pas jadi panitia seleksi mapres-yang kalo urusanya mapres pastinya bekerja di bawah lembaga tersebut~

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejak disini

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

Sisi Gelap Jogja (?)

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia