Machine Learning dan AI Summer School

Gambar
Di tengah pandemi ini, salah satu hikmah yang bisa saya petik adalah banyaknya kegiatan offline yang biasanya mahal dan susah dicapai karena harus ke luar negeri, tapi jadi bisa diikutin secara online dan harganya murah. Salah satu kegiatan itu adalah Summer School. Di tahun 2020-2021 ini saya alhamdulillah dapat kesempatan join di dua kegiatan internasional bertajuk Summer School: Machine Learning Summer School (MLSS) 2020 dan PRAIRIE/MIAI AI Summer School (PAISS) 2021 . Di artikel ini saya akan cerita sedikit pengalaman saya mengikuti kegiatan Machine Learning atau AI Summer School, apa menariknya, dan bagaimana cara ikutnya. Machine Learning Summer School (MLSS) 2020    Di tengah tahun 2020 saya alhamdulillah dapat kesempatan ikut salah satu event Machine Learning Summer School (MLSS) yang diselenggarakan di Indonesia dengan penyelenggaranya adalah Telkom University dan University of Amsterdam. Saya bilang "kesempatan" karena untuk ikut kebanyakan kegiatan sejenis summ

Bukamata dari Bukalapak

Kemarin malam minggu saya diajak makan malam oleh mbak-mbak gak kayak malam minggu biasanya yang diajakin bapak-bapak (Pak Anif, dkk.). Bukan makan malam biasa sih tapi juga bukan makan malam romantis :v cuma itu undangan makan malam karena sorenya alhamdulillah aku dan empat temenku berhasil juara Bukalapak Progamming Contest (BLPC) regional Jogja-Jateng. Iya bisa ditebak, mbak-mbak itu panitia dari Bukalapak :v

Makan malemnya selain kita berlima yang juara lomba juga semeja bareng empat anggota dari Bukalapak. Setelah kepo aku tahu ada Mas Nuc, CTO Bukalapak, Mas Gema, Head of Human Capitalnya, terus ada Mas Hadi Saloko, programmer dan kayaknya tim repotnya BLPC juga dan Mbak Nida tim recruitment yang juga seksi repotnya BLPC.

Dan sambil ditengah-tengah ngobrol, ada obrolan menarik yang aku kutip dan sebnernya inti dari post ini, adalah sepatah kata dari Mas Nuc, kira-kira gini.

Kalau jadi dosen di Indonesia khususnya di bidang IT aku lihat risetnya masih bisa kalah sama programmer-programmer industri. Kenapa? karena kalau jadi dosen di Indonesia itu banyak hal-hal yang bisa menghalangi kamu nantinya untuk riset. Belum lagi nanti karena gajinya kecil akhirnya jadi proyekan ujung-ujungnya. Sedangkan kalau di industri karena kita bersaing, kalau kita tidak pakai teknologi terbaru kita akan kalah. Jadinya malah harus terus belajar.

Beda lagi kalau dosen di luar negeri. Kalau di luar negeri jadi dosen itu risetnya jalan, selain itu dosen-dosen sana cukup update dengan teknologi terbaru. Saya inget pernah ketemu dosen tua di luar negeri masih tahu fitur terbarunya Android Studio"

Hm... Gimana?
Mungkin ada yang kepikiran, ah itu kan bahan promosi atau recruiting jadi jangan dipercaya,
tapi kalau aku pribadi sih, ngerasa itu bener loh dari yang aku lihat selama kuliah ini. Tapi setelah ndenger itu bukannya malah pingin tertarik jadi programmer Bukalapak malah tambah pingin jadi dosen :v Malah kepikiran, ada sistem yang perlu diperbaiki bukan?

Semoga Allah ta'ala menguatkan dan memberi pilihan terbaik.

Komentar

  1. Tutup mata yan :v
    Kerja sik wae ra salah kok. Ning sing sesuai karo research sampeyan, eman2 sinau akeh2 ning kampus ning ra tau dipake. Golek kerjaan sing nganggo teknologi anyar, ora android studio :v Nek wis ana modal, cus lah langsung mangkat kuliah meneh (karo gowo liyane :v).

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejak disini

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

Sisi Gelap Jogja (?)

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia