Langsung ke konten utama

Bukamata dari Bukalapak

Kemarin malam minggu saya diajak makan malam oleh mbak-mbak gak kayak malam minggu biasanya yang diajakin bapak-bapak (Pak Anif, dkk.). Bukan makan malam biasa sih tapi juga bukan makan malam romantis :v cuma itu undangan makan malam karena sorenya alhamdulillah aku dan empat temenku berhasil juara Bukalapak Progamming Contest (BLPC) regional Jogja-Jateng. Iya bisa ditebak, mbak-mbak itu panitia dari Bukalapak :v

Makan malemnya selain kita berlima yang juara lomba juga semeja bareng empat anggota dari Bukalapak. Setelah kepo aku tahu ada Mas Nuc, CTO Bukalapak, Mas Gema, Head of Human Capitalnya, terus ada Mas Hadi Saloko, programmer dan kayaknya tim repotnya BLPC juga dan Mbak Nida tim recruitment yang juga seksi repotnya BLPC.

Dan sambil ditengah-tengah ngobrol, ada obrolan menarik yang aku kutip dan sebnernya inti dari post ini, adalah sepatah kata dari Mas Nuc, kira-kira gini.

Kalau jadi dosen di Indonesia khususnya di bidang IT aku lihat risetnya masih bisa kalah sama programmer-programmer industri. Kenapa? karena kalau jadi dosen di Indonesia itu banyak hal-hal yang bisa menghalangi kamu nantinya untuk riset. Belum lagi nanti karena gajinya kecil akhirnya jadi proyekan ujung-ujungnya. Sedangkan kalau di industri karena kita bersaing, kalau kita tidak pakai teknologi terbaru kita akan kalah. Jadinya malah harus terus belajar.

Beda lagi kalau dosen di luar negeri. Kalau di luar negeri jadi dosen itu risetnya jalan, selain itu dosen-dosen sana cukup update dengan teknologi terbaru. Saya inget pernah ketemu dosen tua di luar negeri masih tahu fitur terbarunya Android Studio"

Hm... Gimana?
Mungkin ada yang kepikiran, ah itu kan bahan promosi atau recruiting jadi jangan dipercaya,
tapi kalau aku pribadi sih, ngerasa itu bener loh dari yang aku lihat selama kuliah ini. Tapi setelah ndenger itu bukannya malah pingin tertarik jadi programmer Bukalapak malah tambah pingin jadi dosen :v Malah kepikiran, ada sistem yang perlu diperbaiki bukan?

Semoga Allah ta'ala menguatkan dan memberi pilihan terbaik.

Komentar

  1. Tutup mata yan :v
    Kerja sik wae ra salah kok. Ning sing sesuai karo research sampeyan, eman2 sinau akeh2 ning kampus ning ra tau dipake. Golek kerjaan sing nganggo teknologi anyar, ora android studio :v Nek wis ana modal, cus lah langsung mangkat kuliah meneh (karo gowo liyane :v).

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejak disini

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." [Al-Zalzalah: 7-8] Wah, sebenernya ayat ini dalem banget loh. ini berarti setiap tindakan kecil kita itu juga akan dipertanyakan di akhirat nanti. Kali ini mau saya bahas sedikit tentang "Sudah halalkah font kita". Ya, font yang kita pakai ini. Representasi wajah tulisan di web atau hasil ketikan di komputer. Lisensi Font Seperti apapun di dunia internet ini, semua berlisensi. Dan tahukah kalian, kalau font yang ada di komputer Windows itu sebenarnya juga tidak gratis, bahkan font-font yang kalian download dari situs-situs penyedia layanan font seperti Dafont , FontSquirrel , dan sebagianya itu juga tidak semuanya bisa digunakan seenaknya loh.

Sisi Gelap Jogja (?)

weh, ngeri banget judulnya, hehe sebenernya maksud pos ini adalah kisah duka di daerah jogja yang aku rasain sejak masuk UGM... sisi negatif itu  sebuah pendapat, tidak benar secara mutlak, dan bisa juga tidak salah secara mutlak nah, setelah 1 semester kuliah, yah, sudah pas 1 semester, kemarin siang baru aja registrasi semester 2, aku pingin menjawab sebuah pertanyaan yang aku dapet ketika promosi UGM di Surabaya: "Mas, Di Jogja katanya pergaulannya buruk? bener gak sih?" mungkin aku buka dulu dengan pendapat temen-temen jogjaku " Hmmm, menurutku tergantung komunitas yg dipilih apa dulu. DI jogja banyak banget komunitas mulai dari yg positif sampe yg negatif ada. Tergantung lingkungan kita tinggal di Jogja. Kalo menurutku overall asal kita gak aneh-aneh mau gabung ke komunitas yg negatif kayak komunitas 'coret-coret tembok' misalnya, ya pergaulan di kota Jogja relatif bagus sih gak buruk. Toh di sini masih ada budaya 'pekewuh' (tahu malu

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia

Perpustakaan UII Alhamdulillah, hari ini tepat 4 bulan saya jadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) . Memang, 4 bulan adalah waktu yang singkat untuk menilai suatu kampus. Tapi saya pribadi sudah nggak sabar pingin cerita banyak tentang UII. Saya yang dulu tidak pernah dengar nama kampus ini, sudah berkali-kali dibuat kaget sekaligus kagum dengan beragam hal yang saya temui 4 bulan ini. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang UII, versi 4 bulan jadi warga baru di UII. Kalau pingin tahu gimana seleksi dosen UII, bisa baca di sini . Universitas Islam Indonesia Kalau dulu ketika awal kuliah disuruh menyebutkan 3  nama ikan universitas swasta yang ada di Indonesia, mungkin yang teringat: Universitas Kristen Petra, kampusnya deket rumah Universitas Surabaya, beberapa kali lomba di sana Universitas Telkom, sering promo ke SMA Pertama kali denger nama "UII" dari temen kuliah saya. Dan pas itu saya ingat komentar, "loh itu beda ya sama Universitas Islam