Langsung ke konten utama

Meja Kayu

Di awal kepengurusan dulu beli 6 meja kayu untuk Sekretariat OmahTI. Meja kayu lipat gambar-gambar, dari ultraman sampai barbie, yang biasa di pake buat ngaji TPA setahun kemarin kita pake buat ngoding atau nonton youtube bareng di sekre.

Meja ini sering banget rusak, gak usah tanya, harganya aja gak sampai 20ribu. Beberapa temen sempet bilang beli baru aja, yang kakinya begini dan begitu, yang bahannya begini dan begitu, lebih awet kata mereka.

Menurutku, awet nggaknya suatu barang itu tergantung bagaimana kita memakainya dan merawatnya. Masa-masa perawatan meja kayu bareng-bareng anak OTI itulah yang mendadak bikin kangen.

Keinget pas Azam, ngelakbanin kaki-kaki mejanya sambil emosi biar gak lepas-lepas lagi, bahkan sampe gak bisa dilipat lagi :) atau pas Maya-Nana beli lem buat ngelemin meja-meja itu yang akhirnya berujung kakinya gak bisa dilipat juga :)) atau suara keras pukulan palu buat ngepakuin meja-meja itu tiap sabtu pagi :D kalau yang ini biasanya aku ._. bisa mukul sesuatu rasanya ada kepuasan tersendiri, haha

Perjuangan seru selama setahun yang bikin dari 6 meja yang kita punya, semuanya masih bisa dipakai sampai akhir kepengurusan :)

Dan sekarang? Para tukang kayu itu telah pergi, meja-meja itu udah jadi "kayu yang bersandar", masih bagus, tapi udah gak kepakai, hanya karena pakunya lepas satu, udah langsung tertumpuk tidak terawat. Meja baru datang, bikin meja-meja veteran ini semakin terkucil.

Post ini bukan nyalahin tukang kayu yang sekarang udah kuliah, atau nyalahin meja baru yang dateng dan udah kayak Buzz Lightyear yang nyingkirin Woody, karena ini lebih ke salahku juga yang gak berhasil regerenasi tukang kayu

Tapi post ini juga mengingatkan tentang sikap kita untuk merawat dan memaksimalkan fungsi suatu benda.

"Sebelum beli sesuatu coba dilihat dulu benda sebelumnya yang sejenis dengan benda yang akan kamu beli, masih terawat kah? terpakai dengan optimalkah?"

inti perkataan mas Ucup yang bikin aku jadi pingin nulis ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." [Al-Zalzalah: 7-8] Wah, sebenernya ayat ini dalem banget loh. ini berarti setiap tindakan kecil kita itu juga akan dipertanyakan di akhirat nanti. Kali ini mau saya bahas sedikit tentang "Sudah halalkah font kita". Ya, font yang kita pakai ini. Representasi wajah tulisan di web atau hasil ketikan di komputer. Lisensi Font Seperti apapun di dunia internet ini, semua berlisensi. Dan tahukah kalian, kalau font yang ada di komputer Windows itu sebenarnya juga tidak gratis, bahkan font-font yang kalian download dari situs-situs penyedia layanan font seperti Dafont , FontSquirrel , dan sebagianya itu juga tidak semuanya bisa digunakan seenaknya loh.

Sisi Gelap Jogja (?)

weh, ngeri banget judulnya, hehe sebenernya maksud pos ini adalah kisah duka di daerah jogja yang aku rasain sejak masuk UGM... sisi negatif itu  sebuah pendapat, tidak benar secara mutlak, dan bisa juga tidak salah secara mutlak nah, setelah 1 semester kuliah, yah, sudah pas 1 semester, kemarin siang baru aja registrasi semester 2, aku pingin menjawab sebuah pertanyaan yang aku dapet ketika promosi UGM di Surabaya: "Mas, Di Jogja katanya pergaulannya buruk? bener gak sih?" mungkin aku buka dulu dengan pendapat temen-temen jogjaku " Hmmm, menurutku tergantung komunitas yg dipilih apa dulu. DI jogja banyak banget komunitas mulai dari yg positif sampe yg negatif ada. Tergantung lingkungan kita tinggal di Jogja. Kalo menurutku overall asal kita gak aneh-aneh mau gabung ke komunitas yg negatif kayak komunitas 'coret-coret tembok' misalnya, ya pergaulan di kota Jogja relatif bagus sih gak buruk. Toh di sini masih ada budaya 'pekewuh' (tahu malu

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia

Perpustakaan UII Alhamdulillah, hari ini tepat 4 bulan saya jadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) . Memang, 4 bulan adalah waktu yang singkat untuk menilai suatu kampus. Tapi saya pribadi sudah nggak sabar pingin cerita banyak tentang UII. Saya yang dulu tidak pernah dengar nama kampus ini, sudah berkali-kali dibuat kaget sekaligus kagum dengan beragam hal yang saya temui 4 bulan ini. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang UII, versi 4 bulan jadi warga baru di UII. Kalau pingin tahu gimana seleksi dosen UII, bisa baca di sini . Universitas Islam Indonesia Kalau dulu ketika awal kuliah disuruh menyebutkan 3  nama ikan universitas swasta yang ada di Indonesia, mungkin yang teringat: Universitas Kristen Petra, kampusnya deket rumah Universitas Surabaya, beberapa kali lomba di sana Universitas Telkom, sering promo ke SMA Pertama kali denger nama "UII" dari temen kuliah saya. Dan pas itu saya ingat komentar, "loh itu beda ya sama Universitas Islam