Machine Learning dan AI Summer School

Gambar
Di tengah pandemi ini, salah satu hikmah yang bisa saya petik adalah banyaknya kegiatan offline yang biasanya mahal dan susah dicapai karena harus ke luar negeri, tapi jadi bisa diikutin secara online dan harganya murah. Salah satu kegiatan itu adalah Summer School. Di tahun 2020-2021 ini saya alhamdulillah dapat kesempatan join di dua kegiatan internasional bertajuk Summer School: Machine Learning Summer School (MLSS) 2020 dan PRAIRIE/MIAI AI Summer School (PAISS) 2021 . Di artikel ini saya akan cerita sedikit pengalaman saya mengikuti kegiatan Machine Learning atau AI Summer School, apa menariknya, dan bagaimana cara ikutnya. Machine Learning Summer School (MLSS) 2020    Di tengah tahun 2020 saya alhamdulillah dapat kesempatan ikut salah satu event Machine Learning Summer School (MLSS) yang diselenggarakan di Indonesia dengan penyelenggaranya adalah Telkom University dan University of Amsterdam. Saya bilang "kesempatan" karena untuk ikut kebanyakan kegiatan sejenis summ

Doraemon

Rutinitas malam minggu kalau lagi nganggur dan sedikit ada uang, jalan-jalan ke toko buku. Tapi semalam ada suatu hal yang gak biasa.

Sebenernya bapak itu ada di depanku ketika mengantri waktu membayar di kasir. Tapi aku gak memperhatikan apa yang dia beli karena aku sibuk lihat-lihat buku yang dipajang di etalase dekat kasir. Dan aku bingung dan dibuat speechless ketika melihat apa yang bapak itu beli di meja penyampulan buku. Sebuah komik Doraemon.

Bapak ini berkulit gelap dan mengenakan batik yang terlihat kusam, sekilas menebak beliau bukanlah pengendara mobil. Mengenakan topi tidak bermerek, juga seakan memberitahu beliau mungkin juga tidak mengendarai motor. Atau mungkin mengendarai tapi tanpa mengenakan helm. Dilihat dari raut wajahnya datar sekali, tidak ada rasa senang atau puas, atau rasanya pandangan beliau sedikit kosong dan melamun. Umurnya tebakanku sekitar 50-60 tahunan.

Untuk apa bapak ini beli komik Doraemon?
untuk anaknya kah? kenapa tidak mengajak anaknya?
bagaimana bapak ini tahu edisi yang diinginkan?
atau setidaknya yang beda dengan yang ada di rumah?
atau untuk dirinya sendiri kah? apa tidak terlalu tua untuk membeli sebuah komik?
komik yang bahkan sudah tidak terbit lagi?

Pertanyaan-pertanyaan muncul bertubi-tubi berulang-ulang, sampai melamun, sampai sadar bapak itu sudah menghilang di antrian menyampul buku, sebelum aku sempet bertanya. Kadang sebel juga, kenapa terlalu lama menghabiskan waktu berpikir untuk sekedar bertanya dan memulai pembicaran, "Untuk anaknya, Pak?"

Entah kenapa, adegan tadi terus kepikiran di perjalanan pulang. Dan entah kenapa, setiap mikirinnya rasanya ada rasa sedih. Entah, rasanya ada sesuatu yang salah aja, ada yang nggak pas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

Sisi Gelap Jogja (?)

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia