Langsung ke konten utama

Buku Kangen Indonesia

Beberapa waktu lalu penasaran banget sama Togamas di daerah Gejayan, Jogja. Selama ini kalau ke Togamas cuma yang di deket Gramedia UGM. Setelah pinjem sepeda wawan dan ngontel panas-panas (habis dzuhur pas itu men!) ternyata selain rasa penasaran terbayar, setelah masuk di sana buku-bukunya lebih lengkap dan banyak :3

Dan salah satu buku yang aku beli pas itu adalah "Kangen Indonesia" ditulis oleh Hisanori Kato.
Buku pertama yang aku beli di Togamas Gejayan
Selain komik, selama ini cuma ada 2 buku yang pernah aku baca habis dalam semalam. Pertama, buku Surat Kecil Untuk Tuhan, novel yang berdasarkan kisah nyata gadis penderita kanker karya Agnes Davoanr dan yang kedua adalah buku ini. Emang sih mungkin karena halamannya gak setebel buku Introduction to Algorithm, cuma 144 halaman :/

Buku ini menceritakan pandangan seorang guru sekaligus dosen yang berasal dari Jepang terhadap Indonesia. Bukan tentang Indonesia yang keren karena Bali atau Jogja atau pantai-pantai di timur sana, tapi beliau membahas tentang Indonesia di sisi "kampung metropolitan"nya. Beliau mengupas tentang ramainya suasana Ramadhan, macetnya Jakarta, sampai Busway yang bisa sampe sejam nunggu.

Sebenernya beliau banyak membandingkan budaya Jepang dengan budaya Indonesia. Misalnya tentang bagaimana orang Jepang yang begitu menghargai waktu dan kurang toleran terhadap kesalahan. Sebaliknya orang Indonesia dengan kata sakti "Tidak apa-apa" nya kita dengan mudah memaafkan kesalahan seseorang.

Menarik banget perbandingan budaya Indonesia yang diceritakan dengan sudut pandang. Pas baca buku ini kita dibuat sadar akan budaya Indonesia, kadang ketawa sendiri karena "lucu juga ya" atau malah "suram banget Indonesia", tapi dengan pembawaan positif oleh penulis kita akan lebih sering dibuat berdecak kagum ternyata secara budaya kita nggak kalah jauh dengan Jepang. Jadi setelah baca ini, heran aja kalau lihat orang yang begitu menuhankan budaya Jepang padahal budaya kita aja dipuji oleh orang Jepang.

Aku rekomendasi buku ini buat kalian yang ingin membandingkan budaya Jepang atau budaya negara lain dengan budaya Indonesia dari sudut pandang orang Jepang, bukan orang Indonesia. Untuk menambah cintanya terhadap negeri ini, lalu memperbaiki budaya-budaya yang buruk dan mempertahankan yang baik.

salah satu kutipan yang aku inget
Paling baik kalau ada orang yang bersikap perpaduan antara orang Jepang dan orang Islam Indonesia
karena di Indonesia orang-orangnya kurang menghargai waktu dengan kurang mau bersungguh-sungguh dalam menepati janji, sedangkan orang jepang sangat bersungguh-sungguh namun ketika masih tetap tidak menepati maka tidak ada toleransi bagi mereka yang melanggar.

Perpaduan mereka adalah cerminan kata "InsyaAllah" yang sempurna yang juga sekilas dibahas di buku ini. Seseorang yang begitu bersungguh-sungguh menepati janji dan jika masih belum bisa, maka itu adalah takdir Allah subhanahu wata'ala.

Catatan:
Buku ini punya layout yang menarik, gak sempet fotoin, tapi ada banyak ilustrasi-ilustrasi dibuku ini (mirip Manga) dan juga penekanan-penekanan pada kata-kata penting yang punya halaman berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." [Al-Zalzalah: 7-8] Wah, sebenernya ayat ini dalem banget loh. ini berarti setiap tindakan kecil kita itu juga akan dipertanyakan di akhirat nanti. Kali ini mau saya bahas sedikit tentang "Sudah halalkah font kita". Ya, font yang kita pakai ini. Representasi wajah tulisan di web atau hasil ketikan di komputer. Lisensi Font Seperti apapun di dunia internet ini, semua berlisensi. Dan tahukah kalian, kalau font yang ada di komputer Windows itu sebenarnya juga tidak gratis, bahkan font-font yang kalian download dari situs-situs penyedia layanan font seperti Dafont , FontSquirrel , dan sebagianya itu juga tidak semuanya bisa digunakan seenaknya loh.

Sisi Gelap Jogja (?)

weh, ngeri banget judulnya, hehe sebenernya maksud pos ini adalah kisah duka di daerah jogja yang aku rasain sejak masuk UGM... sisi negatif itu  sebuah pendapat, tidak benar secara mutlak, dan bisa juga tidak salah secara mutlak nah, setelah 1 semester kuliah, yah, sudah pas 1 semester, kemarin siang baru aja registrasi semester 2, aku pingin menjawab sebuah pertanyaan yang aku dapet ketika promosi UGM di Surabaya: "Mas, Di Jogja katanya pergaulannya buruk? bener gak sih?" mungkin aku buka dulu dengan pendapat temen-temen jogjaku " Hmmm, menurutku tergantung komunitas yg dipilih apa dulu. DI jogja banyak banget komunitas mulai dari yg positif sampe yg negatif ada. Tergantung lingkungan kita tinggal di Jogja. Kalo menurutku overall asal kita gak aneh-aneh mau gabung ke komunitas yg negatif kayak komunitas 'coret-coret tembok' misalnya, ya pergaulan di kota Jogja relatif bagus sih gak buruk. Toh di sini masih ada budaya 'pekewuh' (tahu malu

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia

Perpustakaan UII Alhamdulillah, hari ini tepat 4 bulan saya jadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) . Memang, 4 bulan adalah waktu yang singkat untuk menilai suatu kampus. Tapi saya pribadi sudah nggak sabar pingin cerita banyak tentang UII. Saya yang dulu tidak pernah dengar nama kampus ini, sudah berkali-kali dibuat kaget sekaligus kagum dengan beragam hal yang saya temui 4 bulan ini. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang UII, versi 4 bulan jadi warga baru di UII. Kalau pingin tahu gimana seleksi dosen UII, bisa baca di sini . Universitas Islam Indonesia Kalau dulu ketika awal kuliah disuruh menyebutkan 3  nama ikan universitas swasta yang ada di Indonesia, mungkin yang teringat: Universitas Kristen Petra, kampusnya deket rumah Universitas Surabaya, beberapa kali lomba di sana Universitas Telkom, sering promo ke SMA Pertama kali denger nama "UII" dari temen kuliah saya. Dan pas itu saya ingat komentar, "loh itu beda ya sama Universitas Islam