Langsung ke konten utama

Blah Blah Blah

Bingung ngisi waktu di minggu tenang, dan memutuskan untuk blogging sesuatu


Ini adalah buku paling mahal yang pernah tak beli, harganya nyaris 100ribu pas itu, tapi worth it banget buat di baca. Dan gara-gara buku ini aku jadi serius belajar mendesain powerpoint yang baik.

Selama setahun ini kegiatan yang paling aku takutin sejak awal kepengurusan adalah presentasi atau bicara di depan umum, aku bukan ahli di bidang ini. Tapi setelah mbaca buku ini, wawasanku jadi sedikit banyak bertambah, bahwa sebenarnya bicara di depan umum tidaklah jauh berbeda dengan menggambar! yap, ada seni di balik itu (bahkan pada buku ini akan dibuktikan bahwa ada rule yang jelas!).

Inti dari buku adalah bagaimana kita membuat apa yang kita bicarakan itu efektif, jelas, mengena, dan mudah dipahami. Terbagi menjadi tiga bagian besar, bagian pertama akan membahas tentang cara kita untuk mengenali pembicaraan yang tidak "blah blah blah", dilanjutkan bagaimana kata-kata bisa kita visualisasikan dalam bentuk gambar, dan di bagian terakhir akan diberi cara sederhana bagaimana menyampaikan ide yang dapat diterima secara visual dan verbal.

Memang sih, belum banyak ilmu yang berhasil aku terapkan dari buku ini gara-garanya setiap kali presentasi dikasih jadwalnya dadakan :( dan karena aku masih menggunakan Inkscape, sedikit sulit untuk menggambar dalam waktu cepat.

Tapi ada beberapa point yang bisa aku implementasikan dengan cepat dan berguna di setiap presentasi. Salah satunya sesuatu yang disebut di buku ini sebagai "Blah-Blahmeter", sebuah alat ukur untuk mengukur efektivitas sebuah kalimat dan beberapa hikmah lain dari kisah nyata yang menarik seperti bagaimana seorang pilot bicara jauh lebih efektif dari pada seorang Barrack Obama!

yah, buku yang menarik dengan ilustrasi yang lucu tentang Rubah dan Kolibri sebagai karakter utama. Berbeda dengan beberapa buku yang menjelaskan tentang presentasi yang menarik namun bukunya sendiri tidak menarik, Buku Blah blah blah karya Dan Roam ini menjelaskan tentang efektivitas berbicara dengan visual dan Dan Roam sendiri menerapkannya dalam bukunya. Coba baca, dan kalian bakalan gak bisa berhenti sampai membaca habis bukunya :)

lihat betapa menariknya, akan ada banyak ilustrasi di bukunya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." [Al-Zalzalah: 7-8] Wah, sebenernya ayat ini dalem banget loh. ini berarti setiap tindakan kecil kita itu juga akan dipertanyakan di akhirat nanti. Kali ini mau saya bahas sedikit tentang "Sudah halalkah font kita". Ya, font yang kita pakai ini. Representasi wajah tulisan di web atau hasil ketikan di komputer. Lisensi Font Seperti apapun di dunia internet ini, semua berlisensi. Dan tahukah kalian, kalau font yang ada di komputer Windows itu sebenarnya juga tidak gratis, bahkan font-font yang kalian download dari situs-situs penyedia layanan font seperti Dafont , FontSquirrel , dan sebagianya itu juga tidak semuanya bisa digunakan seenaknya loh.

Sisi Gelap Jogja (?)

weh, ngeri banget judulnya, hehe sebenernya maksud pos ini adalah kisah duka di daerah jogja yang aku rasain sejak masuk UGM... sisi negatif itu  sebuah pendapat, tidak benar secara mutlak, dan bisa juga tidak salah secara mutlak nah, setelah 1 semester kuliah, yah, sudah pas 1 semester, kemarin siang baru aja registrasi semester 2, aku pingin menjawab sebuah pertanyaan yang aku dapet ketika promosi UGM di Surabaya: "Mas, Di Jogja katanya pergaulannya buruk? bener gak sih?" mungkin aku buka dulu dengan pendapat temen-temen jogjaku " Hmmm, menurutku tergantung komunitas yg dipilih apa dulu. DI jogja banyak banget komunitas mulai dari yg positif sampe yg negatif ada. Tergantung lingkungan kita tinggal di Jogja. Kalo menurutku overall asal kita gak aneh-aneh mau gabung ke komunitas yg negatif kayak komunitas 'coret-coret tembok' misalnya, ya pergaulan di kota Jogja relatif bagus sih gak buruk. Toh di sini masih ada budaya 'pekewuh' (tahu malu

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia

Perpustakaan UII Alhamdulillah, hari ini tepat 4 bulan saya jadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) . Memang, 4 bulan adalah waktu yang singkat untuk menilai suatu kampus. Tapi saya pribadi sudah nggak sabar pingin cerita banyak tentang UII. Saya yang dulu tidak pernah dengar nama kampus ini, sudah berkali-kali dibuat kaget sekaligus kagum dengan beragam hal yang saya temui 4 bulan ini. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang UII, versi 4 bulan jadi warga baru di UII. Kalau pingin tahu gimana seleksi dosen UII, bisa baca di sini . Universitas Islam Indonesia Kalau dulu ketika awal kuliah disuruh menyebutkan 3  nama ikan universitas swasta yang ada di Indonesia, mungkin yang teringat: Universitas Kristen Petra, kampusnya deket rumah Universitas Surabaya, beberapa kali lomba di sana Universitas Telkom, sering promo ke SMA Pertama kali denger nama "UII" dari temen kuliah saya. Dan pas itu saya ingat komentar, "loh itu beda ya sama Universitas Islam