Langsung ke konten utama

Kebutuhan Smartphone

Udah seminggu ini ada smartphone di kosanku, hadiah dari seseorang. Aku gak pernah minta untuk dibelikan dan berusaha menyembunyikan ketertarikan, tapi qodarullah. OPPO R821 Find Muse, namanya emang agak ribet. Aku lihat spesifikasinya di Internet ternyata bagus banget, udah lebih bagus dari smartphone-smartphone yang pernah aku target untuk aku beli pake uang sendiri suatu hari nanti.

Tapi... kok setelah seminggu rasanya ada yang aneh,
mendadak jadi disfungsi alias kehilangan fungsi dari smartphone di kosku ini. Bukan smartphonenya rusak, tapi aku sendiri yang bingung smartphone ini mau buat apa. Nah, aku sudah ada laptop yang tersambung ke internet dan sebongkah HP walau agak jadul. Dan menurutku semua fungsi smartphone ini sudah ada di laptopku dan HP ku. Atau mungkin akunya aja yang belum begitu paham dengan smartphone.

Aku bukan anak 'gaul' yang suka pake whats app, bbm, line atau software-software chatting sejenisnya, SMS biasa udah cukup. Koneksi dengan modem juga cukup ketimbang aku harus beli paket internet lagi untuk smartphoneku, toh paket internet di smartphone lebih mahal untuk saat ini. Aku juga bukan tipe manusia yang suka 'pamer' kondisi aku sedang ngapain dan sedang dimana dengan update status atau 'check-in'. Develop aplikasinya juga sebenernya gak perlu devicenya, cukup punya emulator di laptop.

Jadi inget kata-katanya ust. Zainal Abidin kemarin malam
"Belilah barang sesuai kebutuhan jangan sesuai keinginan"

Tapi karena ini pemberian orang lain ya aku tetep menghargai.
Semoga aja aku tetep bisa membuat benda ini bermanfaat bagi semua.

Jadinya pikirku,
"Laptop ini usianya 3 tahun lebih, dan aku sudah dibuat jalan-jalan sampai ke Bandung, Jakarta, Jogja, karena belajar menggunakannya. Semoga smartphone ini bisa memberi manfaat lebih"

makasih ma,

Komentar

  1. ciee master rajagede pake smartpon sekarang :v makan2 yan :))

    BalasHapus
  2. kok makan2? biasanya kan kalau ada yang baru di injek-injek :v

    BalasHapus
  3. oiya :v
    btw pantesan seminggu ini di bagian kanan chat fbmu ada simbol HPnya waktu akunmu nggak online

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejak disini

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." [Al-Zalzalah: 7-8] Wah, sebenernya ayat ini dalem banget loh. ini berarti setiap tindakan kecil kita itu juga akan dipertanyakan di akhirat nanti. Kali ini mau saya bahas sedikit tentang "Sudah halalkah font kita". Ya, font yang kita pakai ini. Representasi wajah tulisan di web atau hasil ketikan di komputer. Lisensi Font Seperti apapun di dunia internet ini, semua berlisensi. Dan tahukah kalian, kalau font yang ada di komputer Windows itu sebenarnya juga tidak gratis, bahkan font-font yang kalian download dari situs-situs penyedia layanan font seperti Dafont , FontSquirrel , dan sebagianya itu juga tidak semuanya bisa digunakan seenaknya loh.

Sisi Gelap Jogja (?)

weh, ngeri banget judulnya, hehe sebenernya maksud pos ini adalah kisah duka di daerah jogja yang aku rasain sejak masuk UGM... sisi negatif itu  sebuah pendapat, tidak benar secara mutlak, dan bisa juga tidak salah secara mutlak nah, setelah 1 semester kuliah, yah, sudah pas 1 semester, kemarin siang baru aja registrasi semester 2, aku pingin menjawab sebuah pertanyaan yang aku dapet ketika promosi UGM di Surabaya: "Mas, Di Jogja katanya pergaulannya buruk? bener gak sih?" mungkin aku buka dulu dengan pendapat temen-temen jogjaku " Hmmm, menurutku tergantung komunitas yg dipilih apa dulu. DI jogja banyak banget komunitas mulai dari yg positif sampe yg negatif ada. Tergantung lingkungan kita tinggal di Jogja. Kalo menurutku overall asal kita gak aneh-aneh mau gabung ke komunitas yg negatif kayak komunitas 'coret-coret tembok' misalnya, ya pergaulan di kota Jogja relatif bagus sih gak buruk. Toh di sini masih ada budaya 'pekewuh' (tahu malu

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia

Perpustakaan UII Alhamdulillah, hari ini tepat 4 bulan saya jadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) . Memang, 4 bulan adalah waktu yang singkat untuk menilai suatu kampus. Tapi saya pribadi sudah nggak sabar pingin cerita banyak tentang UII. Saya yang dulu tidak pernah dengar nama kampus ini, sudah berkali-kali dibuat kaget sekaligus kagum dengan beragam hal yang saya temui 4 bulan ini. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang UII, versi 4 bulan jadi warga baru di UII. Kalau pingin tahu gimana seleksi dosen UII, bisa baca di sini . Universitas Islam Indonesia Kalau dulu ketika awal kuliah disuruh menyebutkan 3  nama ikan universitas swasta yang ada di Indonesia, mungkin yang teringat: Universitas Kristen Petra, kampusnya deket rumah Universitas Surabaya, beberapa kali lomba di sana Universitas Telkom, sering promo ke SMA Pertama kali denger nama "UII" dari temen kuliah saya. Dan pas itu saya ingat komentar, "loh itu beda ya sama Universitas Islam