Machine Learning dan AI Summer School

Gambar
Di tengah pandemi ini, salah satu hikmah yang bisa saya petik adalah banyaknya kegiatan offline yang biasanya mahal dan susah dicapai karena harus ke luar negeri, tapi jadi bisa diikutin secara online dan harganya murah. Salah satu kegiatan itu adalah Summer School. Di tahun 2020-2021 ini saya alhamdulillah dapat kesempatan join di dua kegiatan internasional bertajuk Summer School: Machine Learning Summer School (MLSS) 2020 dan PRAIRIE/MIAI AI Summer School (PAISS) 2021 . Di artikel ini saya akan cerita sedikit pengalaman saya mengikuti kegiatan Machine Learning atau AI Summer School, apa menariknya, dan bagaimana cara ikutnya. Machine Learning Summer School (MLSS) 2020    Di tengah tahun 2020 saya alhamdulillah dapat kesempatan ikut salah satu event Machine Learning Summer School (MLSS) yang diselenggarakan di Indonesia dengan penyelenggaranya adalah Telkom University dan University of Amsterdam. Saya bilang "kesempatan" karena untuk ikut kebanyakan kegiatan sejenis summ

Cerita sebuah MOS

"Seperti sebuah salak, yang berduri kulitnya... tidak ada baunya... kita tidak akan bisa membedakan mana buah yang manis dan asam jika tidak mencobanya... karena itu... tidak sepatutnya kita bersu'udzon... sebelum kita mencobanya"
Dica Rasyid, PK Samurai 2011

Karena itulah yang memang sering terjadi di saat-saat tahun ajaran baru seperti ini....
banyak siswa-siswa yang lebih mendahulukan pikiran negatif mereka...
akan keberadaan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS)... 

di media-media sering disiarkan banyak peristiwa buruk yang berhubungan dengan kegiatan MOS... yang akhirnya membentuk segmen bahwa tidak ada MOS yang baik...
semua itu hanya sekedar perpeloncoan...

sebuah pemikiran yang salah inilah yang kadang menjadi pegangan para siswa baru..
sehingga tidak sedikit dari mereka yang kurang berpikir objektif dalam  menghadapi MOS...

saya akui, banyak sekolah yang saat MOS lebih menanamkan tentang senioritas...
bukan tentang nilai-nilai yang menjadi acuan keberhasilan MOS...
sebenarnya, menggunakan kekerasan dalam pendidikan bukanlah suatu keharusan...
bahkan, jika bisa harus dihindari...
jangan jadikan ini tradisi turun temurun...

 Banyak juga sekolah-sekolah yang hanya membuat adek-adeknya malu...
dengan membawa tas kardus..
nyanyi-nyanyi tanpa esensi... rambut dikepang sekian... dan juga pernak-pernik aneh lainnya...
yang hanya melatih ke-junioritas-an, kesanggupan mengikuti perintah senior...
dan ini merupakan salah satu faktor hadirnya segmen yang mengatakan buruknya MOS itu sendiri...

"MOS jangan dijaidkan ajang perpeloncoan, tapi lebih pada pembentukan karakter dan menumbuhkan semangat nasionalisme," Drs Haryomo MPd, Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru (PSB) Kabupaten Magelang, dikutip dari suaramerdeka.com

tapi percaya atau tidak,
di era saat ini, ada juga sekolah yang masih menggunakan MOS dengan wajar...
MOS sehat...
mementingkan hasil dan proses yang dicapai secara bersamaan...
berani berbeda dengan sistem...
tapi hasil didikannya?... sudah banyak yang bisa melihat keberhasilannya...

coba perhatikan beberapa perkataan mereka setelah mengikuti hari pertama MOS...

"Saya merasa perlu banyak perubahan mas", Andre
"kalau di suruh MOS lagi, saya mau... karena banyak ilmu yang saya peroleh", Rama

lalu mungkin ada yang bertanya,
bagaimana dengan jiwa kepemimpinan?
bukankah itu juga perlu dilatih...?
ya, perlu... tapi dengan cara yang wajar...
dengan cara pendidikan...dengan cara pembangunan karakter...
bukan perpeloncoan ala preman...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah halalkah Font kita?

Sisi Gelap Jogja (?)

Menjadi Warga Baru di Universitas Islam Indonesia